Skandal Gelap Inter Milan: Helenio Herrera Gunakan Kekerasan dan Obat Terlarang demi Kemenangan

Skandal Gelap Inter Milan: Helenio Herrera Gunakan Kekerasan dan Obat Terlarang demi Kemenangan

Olahraga | inews | Kamis, 12 Februari 2026 - 23:00
share

BUENOS AIRES, iNews.id – Helenio Herrera yang memiliki julukan Il Mago atau The Wizard, bukan hanya legenda di Atletico Madrid, Barcelona, dan Inter Milan. Dia juga dikenang sebagai sosok kontroversial yang memadukan kejeniusannya dalam sepak bola dengan metode gelap yang mengejutkan dunia.

Lahir dari orang tua Spanyol di Buenos Aires dan pindah ke Casablanca saat berusia tiga tahun, karier pemain Herrera biasa-biasa saja. Namun di bangku pelatih, dia menjadi revolusioner. Herrera memperkenalkan disiplin ekstrem, latihan keras, dan strategi yang menakutkan lawan.

Menurut biografi Richard Fitzpatrick, HH: Helenio Herrera — Football’s Original Master of the Dark Arts, Herrera menjalankan dunia sepak bola dengan cara yang jauh melampaui standar normal: psikologis, kekerasan, hingga penggunaan obat peningkat performa.

Dia sangat obses dengan ketangguhan mental. Herrera menerapkan diet ketat dan latihan tanpa kompromi, dengan pemain terkunci di hotel selama berhari-hari hanya dikelilingi lapangan sepak bola. Mantan striker Inggris, Gerry Hitchens, menyebut kamp latihan Herrera “seperti keluar dari tentara yang kejam”.

Di Atletico, Barcelona, dan Inter Milan, Herrera mencetak rekor impresif. Di Barcelona, timnya menumbangkan Real Madrid dan meraih lima gelar dalam dua tahun. Ketika pindah ke Inter pada 1960, dia menyempurnakan gaya Catenaccio, formasi 5-3-2 dengan empat bek marker dan satu sweeper, membuat timnya menakutkan di Serie A dan Eropa.

Inter di bawah Herrera memenangkan tiga Scudetto, dua Piala Eropa berturut-turut (1964-1965), dan Coppa Italia. Namun intensitasnya tidak berhenti di lapangan.

Setelah ibunya meninggal, Herrera pernah menyerang penggemar Atletico yang menghina mendiang ibunya. Fitzpatrick menulis:

“Begitu HH melihatnya, dia melompat. Dia menendang dan memukul, memukuli penggemar itu seperti keledai. Herrera bahkan ingin memasukkan bola biliar ke mulut penggemar untuk menghentikannya.”

Kecintaan Herrera pada kebugaran membawa kontroversi serius. Sebelum ada badan anti-doping modern, Herrera diduga memberi pemainnya amphetamin yang dicampur dengan teh atau kopi.

Sandro Mazzola, salah satu pemain Inter, mengatakan: “Saya tidak bisa terlihat menghindarinya oleh Herrera, jadi saya meletakkan tablet di bawah lidah saya. Terapis pijat berkata: ‘Syukurlah kamu tidak meminumnya. Bisa saja kamu ambruk saat lari! Efek sampingnya sangat berbahaya.’”

Metode ekstrem Herrera akhirnya membawa tragedi. Saat membesut Roma, striker Giuliano Taccola tetap dipaksakan bermain meski sakit, hingga akhirnya kolaps dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit pada usia 25 tahun.

Karier Herrera tak pernah pulih sepenuhnya. Dia pensiun di Venesia, meninggalkan delapan anak. Malam sebelum meninggal, Herrera meminta istrinya membaca surat dari mantan kekasih yang mengaku “jatuh cinta pada pria yang salah”.

Beberapa jam kemudian, Herrera meninggal dunia. Kini dia dikenang sebagai seorang pemenang, master seni gelap, sekaligus sosok penuh kontroversi.

Topik Menarik