Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Sekjen PBB: Ini Momen Genting Dunia

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Sekjen PBB: Ini Momen Genting Dunia

Terkini | inews | Selasa, 10 Februari 2026 - 09:56
share

WASHINGTON, iNews.id - Sekjen PBB Antonio Guterres memberi peringatan terkait berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir Amerika Serikat (AS) dan Rusia, New START. Berakhirnya perjanjian penting pengendalian pengerahan senjata nuklir kedua negara itu memicu kekhawatiran luas akan stabilitas keamanan global. 

Guterres bahkan menilai situasi ini sebagai momen paling genting dalam beberapa dekade terakhir.

Perjanjian New START resmi berakhir pada 4 Februari, menyudahi satu-satunya kesepakatan yang selama ini membatasi jumlah hulu ledak nuklir dua kekuatan terbesar dunia. Berakhirnya New START terjadi pada waktu yang sangat buruk.

“Berakhirnya pencapaian selama beberapa dekade ini tidak mungkin terjadi pada waktu yang lebih buruk. Risiko penggunaan senjata nuklir adalah yang tertinggi dalam beberapa dekade,” kata Guterres, seraya menyinggung pernyataan Rusia terkait kemungkinan penggunaan senjata nuklir taktis di awal perang Ukraina.

Seruan pengekangan juga datang dari NATO. Seorang pejabat aliansi pertahanan pimpinan AS itu meminta semua pihak bertanggung jawab dalam penggunaan senjata nuklir serta mengecam retorika nuklir Rusia yang dinilai tidak bertanggung jawab.

Presiden AS Donald Trump menyerukan dibuatnya kesepakatan nuklir baru setelah berakhirnya New START. Trump menginginkan perjanjian baru yang lebih modern dan berjangka panjang, bahkan mendorong agar China ikut dilibatkan. Namun Beijing menolak dengan alasan kekuatan nuklirnya masih jauh di bawah AS dan Rusia.

Trump menyebut New START sebagai perjanjian yang “dinegosiasikan dengan buruk” oleh pemerintahan sebelumnya dan menuding Rusia melanggarnya secara terang-terangan.

“Kita harus meminta para ahli nuklir untuk membuat perjanjian baru yang lebih baik dan modern, yang bisa bertahan lama di masa depan,” tulis Trump di platform Truth Social.

Di sisi lain, Rusia justru menginginkan New START yang disepakati sejak 2010 itu diperpanjang. Namun hubungan Moskow dan Washington yang memburuk membuat Rusia menolak inspeksi persenjataan nuklir sesuai kesepakatan. 

Dalam pernyataan tegas pekan ini, Rusia menegaskan tidak lagi terikat pada pembatasan jumlah hulu ledak nuklir setelah New START berakhir.

Topik Menarik