Penampakan 464 Rumah Rusak hingga Roboh Diguncang Tanah Bergerak di Padasari Tegal
SLAWI, iNews.id – Ribuan warga Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, kini tidak memiliki tempat tinggal akibat rumah mereka rusak hingga roboh terdampak tanah bergerak.
Hingga Senin (9/2/2026), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, sebanyak 2.453 jiwa terdampak telah mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Mereka kini ditempatkan di delapan lokasi yang sudah disiapkan pemerintah kabupaten (Pemkab) Tegal.
Berdasarkan data terbaru di lapangan, tercatat sebanyak 464 rumah warga mengalami kerusakan. Dari jumlah tersebut, 50 rumah di antaranya dikategorikan rusak berat dengan kondisi dinding roboh, lantai retak parah, hingga posisi bangunan yang miring dan membahayakan penghuninya.
"Kondisinya parah. Lapangan di pinggir rumah juga mulai mengalami pergeseran. Kami terpaksa mengungsi demi keselamatan," ujar salah seorang warga terdampak di lokasi pengungsian.
Selain permukiman, infrastruktur publik juga lumpuh. Akses jalan desa dan jalan kabupaten mengalami kerusakan di sejumlah titik, membuat mobilitas warga dan distribusi bantuan terhambat.
Pemicu utama bencana ini diduga akibat stabilitas tanah yang terganggu setelah kawasan perbukitan tersebut diterjang banjir bandang sebelumnya. Hujan deras dengan durasi lama menyebabkan Sungai Rambut meluap, yang disinyalir memperparah kondisi geologis tanah di Desa Padasari.
Pemerintah Kabupaten Tegal telah mengambil langkah cepat dengan menetapkan status Tanggap Darurat Bencana selama 14 hari. Fokus utama saat ini adalah pemenuhan kebutuhan logistik para pengungsi di delapan titik serta pemantauan pergerakan tanah untuk mengantisipasi kerusakan susulan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, ribuan pengungsi terpusat di delapan titik yaitu Majlis Az Zikir wa Rotibain, Majelis & Dukuh Pengasinan, SD N 2 Padasari, Dukuh Lebak RW 05, Gedung Serbaguna Desa Penujah, Ponpes Dawuhan Padasari, Dukuh Tengah Desa Tamansari, dan Desa Mokaha Kecamatan Jatinegara.
“Jumlah pengungsi terdiri atas berbagai kelompok usia dan rentan. Data tersebut dihimpun berdasarkan laporan terbaru dari lapangan,” ungkap Muhari.
Dia merinci jumlah pengungsi korban bencana tanah bergerak terdiri atas 945 laki-laki dan 982 perempuan. Selain itu terdapat 220 lansia, tiga ibu hamil, tiga ibu menyusui, 179 anak-anak, 40 balita, 65 batita, 1.049 remaja, serta 894 orang dewasa.
“BNPB memastikan tim gabungan telah bersiaga di lokasi terdampak pergerakan tanah di Desa Padasari,” ucapnya.
Menurut Muhari, pendampingan dilakukan bersama pemerintah daerah setempat, termasuk penyaluran bantuan logistik dan permakanan bagi para pengungsi.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak, penanganan difokuskan secara paralel pada pendataan warga dan pencarian lokasi untuk pembangunan hunian sementara atau huntara.
Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), serta Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Kabupaten Tegal melakukan verifikasi dan pemutakhiran data By Name By Address (BNBA). Data tersebut digunakan sebagai dasar penerbitan Surat Keputusan kebutuhan huntara.
BNPB bersama pemerintah daerah setempat juga dijadwalkan mendampingi Dinas ESDM Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk melakukan asesmen kelayakan lahan huntara dan rencana relokasi warga terdampak.
“BNPB mengimbau warga untuk mengikuti arahan BPBD setempat guna mengantisipasi potensi ancaman yang meluas di wilayah tersebut,” katanya.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyampaikan data terbaru terkait dampak bencana. "Pemerintah Kabupaten Tegal telah menyiapkan rencana relokasi ke lahan milik Perhutani yang dinilai lebih stabil dan aman," kata Bupati Tegal.










