DPR Prihatin Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT, Jadi Alarm Dunia Pendidikan

DPR Prihatin Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT, Jadi Alarm Dunia Pendidikan

Terkini | inews | Selasa, 3 Februari 2026 - 15:56
share

JAKARTA, iNews.id - Kasus siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat perhatian serius dari DPR RI. Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief, mendesak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengusut tuntas latar belakang tragedi tersebut.

Habib Syarief menilai kejadian ini menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan nasional, terutama terkait pemenuhan kebutuhan dasar belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Kami sangat prihatin. Kasus ini menjadi alarm keras bahwa masih ada anak-anak kita yang tidak mendapatkan kebutuhan belajar paling mendasar. Ini tidak boleh dibiarkan. Negara harus hadir memastikan kebutuhan dasar pendidikan terpenuhi tanpa kecuali,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

Peristiwa tragis ini diduga dipicu ketidakmampuan keluarga korban memenuhi permintaan membeli buku dan alat tulis. Sehari sebelum peristiwa, korban berinisial YBS (10) disebut sempat meminta dibelikan perlengkapan sekolah kepada ibunya. Namun, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Habib menilai tragedi siswa SD gantung diri di Ngada ini mencerminkan masih adanya celah serius dalam sistem pemenuhan hak dasar pendidikan, khususnya di wilayah tertinggal.

Menurutnya, Kemendikdasmen perlu melakukan investigasi menyeluruh untuk memastikan tidak adanya kelalaian sistemik dalam penyaluran bantuan pendidikan.

“Karena sepengetahuan kami anggaran pendidikan dari APBN itu besar, harusnya kebutuhan dasar pendidikan dasar pendidikan seperti buku dan alat tulis bisa terpenuhi,” katanya.

Selain itu, Habib juga mempertanyakan efektivitas mekanisme deteksi dini oleh pihak sekolah dan pemerintah daerah terhadap siswa yang mengalami tekanan ekonomi maupun psikososial.

Dia menilai penyelenggara pendidikan, mulai dari pemerintah daerah, kepala sekolah hingga guru, seharusnya lebih peka terhadap kondisi murid.

“Pengusutan ini penting agar negara tidak abai. Kita perlu memastikan apakah bantuan pendidikan sudah tepat sasaran dan apakah ada pendampingan bagi anak-anak yang mengalami tekanan berat akibat kemiskinan,” ucapnya.

Lebih lanjut, Habib mendorong pemerintah melakukan pendataan ulang kondisi ekonomi siswa, khususnya di NTT dan wilayah tertinggal lainnya. Dia juga meminta penguatan program bantuan perlengkapan sekolah gratis serta peningkatan peran guru dalam memantau kondisi psikologis peserta didik.

“Jangan sampai kita kehilangan generasi hanya karena kemiskinan dan kelalaian sistem. Sekolah harus lebih peka dan responsif terhadap kondisi sosial muridnya agar tragedi serupa tidak kembali terulang,” kata Habib.

Sebelumnya, kasus siswa SD bunuh diri di Ngada mengundang keprihatinan luas. Hal ini usai polisi menemukan surat tulisan tangan korban di lokasi kejadian saat polisi olah tempat kejadian perkara (TKP), Kamis (29/1/2026) siang.

Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, tidak jauh dari pondok tempat tinggalnya bersama neneknya.

Dalam surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada ibunya yang dipanggil Mama Reti. Surat tersebut diakhiri dengan gambar anak menangis.

Kasi Humas Polres Ngada Ipda Benediktus E Pissort membenarkan temuan surat tersebut dan menyebut tulisan tangan korban memiliki kemiripan dengan tulisan di buku sekolahnya.

“Berdasarkan hasil pencocokan dengan beberapa buku tulis korban, penyidik menemukan adanya kecocokan tulisan,” ujar Benediktus dikutip dari iNews TTU, Selasa (3/2/2026).

Hingga kini, kepolisian masih mendalami seluruh rangkaian peristiwa untuk mengungkap latar belakang kasus siswa SD bunuh diri di Ngada tersebut.

Topik Menarik