Banyak yang Depresi, Kemenkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Sulit dan Sangat Mahal

Banyak yang Depresi, Kemenkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Sulit dan Sangat Mahal

Berita Utama | inews | Rabu, 24 April 2024 - 22:05
share

TANGERANG, iNews.id - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka suara terkait dengan ribuan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang mengalami depresi ringan hingga berat. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan untuk mengisi kekosongan dokter spesialis di Indonesia butuh waktu 15 sampai 20 tahun.

Kurangnya dokter spesialis di beberapa rumah sakit daerah ini terjadi didasari berbagai faktor, yaitu sulitnya melanjutkan pendidikan spesialis dan biaya pendidikan yang mahal.

“Kekurangan ini terjadi karena dokter spesialis itu sangat susah masuknya, sangat sedikit tempatnya, dan sangat mahal,” ujar Menkes Budi dalam Konferensi Pers Kemenkes di ICE BSD, Tangerang, Rabu (24/4/2024).

Menurutnya, ini yang membuat dokter spesialis di Indonesia semakin langka. Ditambah dengan adanya peserta PPDS yang depresi, ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kemenkes.

Menkes mengakui pendidikan dokter spesialis di Indonesia lebih kompleks dibandingkan negara lain. Prosesnya pun tidak bisa langsung dan harus melalui berbagai tahapan yang memakan waktu serta biaya besar.

“Karena sistem pendidikan dokter spesialis di Indonesia, mungkin satu-satunya di dunia ya, yang harus berhenti dulu jadi dokter, melamar ke perguruan tinggi, bayar uang kuliah selama 4 tahun gak ada income. Begitu lulus baru balik lagi bekerja,” katanya.

Sebab itu, untuk dapat mencetak dokter-dokter spesialis baru Kementerian kesehatan berupaya memfasilitasi para calon dokter yang mengalami depresi untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut menemui psikiater.

Nantinya para dokter spesialis tersebut akan diresepkan obat jiwa dan bisa menjalankan perawatan lebih lanjut. "Kami tahu ada yang punya depresi minim atau berat, itu secara protokol dan ini dilakukan oleh spesialis ahli-ahli kesehatan jiwa. Ini harus dikonsultasikan ke psikiater,” ujar Menkes Budi.

Selain mengobati para peserta PPDS, Menkes Budi menjelaskan pihaknya perlu untuk memastikan para peserta PPDS tidak di drop out akibat depresi.

“Udah harus ditangani psikiater dokter, itu yang kami lakukan, kami fokusnya ke situ. Ini adalah screening kami mau pastikan orang-orang yang nanti akan jadi dokter jangan sampai drop out,” katanya.

Topik Menarik