IHSG Turun Nyaris 2 Persen Pagi Ini, Tekanan Saham AI Global Membayangi
IDXChannel – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Jumat (6/11/2026), setelah menguat lebih dari 2 persen sehari sebelumnya.
Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 1,92 persen ke level 4.933,77 setelah pada perdagangan Kamis (5/11/2026) kembali menembus level 5.000.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp1,67 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 5,08 miliar saham.
Sebanyak 510 saham melemah, 134 saham menguat, dan 319 saham lainnya tidak berubah.
Saham BBCA (-6,98 poin), AMMN (-6,64 poin), TLKM (-5,70 poin), BRMS (-4,59 poin), dan BRPT (-4,36 poin) menjadi pemberat utama atau laggard IHSG pada perdagangan pagi ini.
Dari sisi sentimen domestik, perhatian pasar pada Jumat (6/11/2026) tertuju pada rilis data cadangan devisa Indonesia Oktober, yang sebelumnya tercatat sebesar USD146,3 miliar, serta indeks harga properti kuartal III-2026, yang pada periode sebelumnya tumbuh 1,32 persen secara tahunan.
Sementara dari Amerika Serikat (AS), investor mencermati data Non-Farm Payrolls (NFP) Oktober dengan konsensus penambahan 65 ribu tenaga kerja. Tingkat pengangguran diperkirakan bertahan di level 4,2 persen.
Data ketenagakerjaan AS berpotensi memengaruhi ekspektasi arah suku bunga The Fed, pergerakan dolar AS, serta aliran modal asing ke pasar negara berkembang.
Secara teknikal, menurut BRI Danareksa Sekuritas, volume transaksi IHSG masih relatif terbatas dibandingkan rata-rata 20 hari. Indikator MACD juga masih berada di area negatif.
Level support terdekat berada di 4.960. BRI Danareksa memperingatkan bahwa apabila level tersebut gagal dipertahankan, IHSG berisiko melanjutkan pelemahan untuk mengisi celah harga (gap filling) menuju 4.829.
Tekanan terhadap IHSG terjadi di tengah pelemahan tajam bursa saham Asia, terutama pasar yang didominasi emiten teknologi.
Kekhawatiran terhadap peningkatan pengawasan regulasi dan perlambatan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memicu aksi jual besar-besaran di kawasan tersebut.
Sentimen ini mengikuti kejatuhan saham-saham AS pada perdagangan sebelumnya, yang mencatat penurunan terdalam sejak gejolak pasar akibat kebijakan tarif pada April 2025.
Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok lebih dari 8 persen hingga memicu penghentian sementara perdagangan selama 20 menit melalui mekanisme circuit breaker. Sementara itu, indeks Nikkei Jepang terkoreksi 6 persen.
Tekanan juga melanda bursa Asia lainnya. Shanghai Composite turun 1,48 persen, Hang Seng Hong Kong melemah 1,06 persen, ASX 200 Australia terkoreksi 0,89 persen, sedangkan STI Singapura turun 2,16 persen.
Di Wall Street, indeks volatilitas pasar yang dikenal sebagai fear gauge melonjak. Nasdaq terperosok 5,5 persen, sementara kapitalisasi pasar perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 menyusut hingga USD3 triliun.
Salah satu sumber ketidakpastian datang dari perubahan peta politik AS setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilu sela (midterm elections) pekan ini.
Kemenangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi pengetatan pengawasan terhadap industri AI oleh pemerintahan dan parlemen AS, yang dapat membatasi ekspansi sektor tersebut.
Ketidakpastian politik itu muncul ketika saham-saham berbasis AI memang tengah menghadapi tekanan.
Investor mulai mempertanyakan tingkat pengembalian investasi dari belanja besar-besaran perusahaan teknologi untuk mengembangkan infrastruktur dan teknologi AI. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.










