Harga CPO Rebound, Permintaan India Jelang Diwali Jadi Penopang
IDXChannel – Harga minyak sawit mentah (CPO) menguat pada Rabu (28/10/2026), setelah melemah selama dua hari sebelumnya. Penguatan ditopang oleh permintaan ekspor yang kuat menjelang periode pembelian untuk perayaan Diwali di India.
Kontrak CPO acuan untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 0,47 persen menjadi 4.723 ringgit per metrik ton pada pukul 14.29 WIB.
“Pasar bergerak naik karena kuatnya ekspor dalam beberapa pekan terakhir menjelang musim Diwali,” ujar proprietary trader pada perusahaan perdagangan berbasis di Kuala Lumpur, Iceberg X Sdn Bhd, David Ng, seperti dikutip Reuters.
Menurut dia, harga CPO diperkirakan mendapat dukungan di atas level 4.650 ringgit, sementara area 4.850 ringgit menjadi level resistance.
Data dari sejumlah surveyor kargo menunjukkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-25 Oktober naik sekitar 46,9 persen hingga 67,7 persen dibandingkan periode yang sama pada bulan sebelumnya.
Penguatan harga minyak mentah juga turut menopang CPO.
Harga minyak naik setelah serangan terhadap sebuah kilang di Arab Saudi, negara eksportir minyak mentah terbesar dunia, kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan pasokan di Timur Tengah akibat konflik dengan Iran dan kelompok yang bersekutu dengannya.
Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO menjadi opsi yang lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Di pasar komoditas China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,75 persen, sedangkan kontrak minyak sawit menguat 0,02 persen. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade turun 0,22 persen.
Pergerakan harga CPO turut mengikuti minyak nabati pesaingnya karena komoditas tersebut bersaing untuk mendapatkan pangsa pasar minyak nabati global.
Di Eropa, impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2026/2027 yang dimulai pada Juli mencapai 3,8 juta metrik ton hingga 25 Oktober, turun 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, impor minyak sawit turun 21 persen menjadi 0,8 juta ton, berdasarkan data Komisi Eropa.
Di sisi lain, penguatan ringgit sebagai mata uang perdagangan CPO turut menjadi faktor pembatas.
Ringgit menguat 0,17 persen terhadap dolar AS, sehingga harga komoditas tersebut menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. (Aldo Fernando)









