IHSG Rawan Dead Cat Bounce, Level Ini Dinilai Jadi Ujian Rebound
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai belum mengonfirmasi pembalikan tren atau reversal meski sempat melonjak tajam pada perdagangan Selasa (20/10/2026).
Pada Rabu (21/10) pagi, pukul 10.17 WIB, IHSG kembali terkoreksi 1,10 persen ke level 5.220,70 setelah bergerak fluktuatif di zona merah dan hijau pada awal sesi.
Koreksi tersebut terjadi sehari setelah IHSG melesat 5,65 persen ke level 5.278,88.
Sebelumnya, indeks sempat menyentuh level 4.907,37 dan ditutup melemah 3,64 persen pada perdagangan intraday Senin (19/10/2026), setelah turun tajam 11,57 persen pada Jumat (16/10/2026).
Penurunan pada Jumat pekan lalu menjadi yang terdalam sejak Januari 1998, menyusul kekhawatiran pasar atas rencana MSCI mengkaji perubahan status Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Padahal Indonesia telah menyandang status pasar negara berkembang tersebut sejak 1989.
Pada Rabu pagi, sebanyak 514 saham melemah, 184 saham menguat, dan 265 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat Rp7,03 triliun dengan volume perdagangan mencapai 12,45 miliar saham.
BRI Danareksa Sekuritas dalam riset Rabu (21/10/2026) menilai pemulihan IHSG masih rentan menjadi dead cat bounce, yakni kenaikan sementara di tengah tren turun yang berpotensi diikuti tekanan jual lanjutan.
Secara teknikal, area resistance 5.318-5.400 menjadi level kunci untuk menguji kekuatan rebound IHSG.
Jika indeks gagal menembus zona tersebut dan kembali menghadapi tekanan jual, risiko pelemahan lanjutan masih terbuka.
Di sisi bawah, menurut BRI Danareksa, IHSG memiliki area support di kisaran 5.161-5.063, dengan level berikutnya di 4.942.
“Penembusan support dapat membuka risiko pengujian kembali titik terendah,” tulis BRI Danareksa.
Indikator MACD juga masih menunjukkan momentum bearish, ditandai histogram negatif yang melebar.
“Belum ada konfirmasi pembalikan tren, sehingga rebound perlu diwaspadai hingga terbentuk struktur harga yang lebih kuat,” kata BRI Danareksa.
Dari sisi sentimen, pelaku pasar mencermati keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu siang.
Survei BIG Consensus menunjukkan 57,14 persen ekonom memperkirakan BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 6,00 persen.
Sementara itu, 42,86 persen ekonom memperkirakan BI mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen.
Sementara, lebih dari separuh ekonom yang disurvei Reuters pada 13-19 Oktober, yakni 15 dari 29 ekonom, memperkirakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan BI di level 5,75 persen pada Rabu.
Mereka juga memperkirakan BI mempertahankan suku bunga deposit facility di level 4,75 persen dan lending facility di level 6,50 persen.
Tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar. Pada perdagangan Selasa (20/10), rupiah ditutup di level Rp17.995 per USD.
Di sisi lain, menurut BRI Danareksa, derasnya kenaikan IHSG pada Selasa belum diikuti pembalikan arus dana asing. Investor asing masih mencatatkan jual bersih atau net sell sebesar Rp2,21 triliun di seluruh pasar pada perdagangan tersebut. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.









