IMF Pertahankan Proyeksi Ekonomi Global, Indonesia Dibayangi Lonjakan Harga Minyak
IDXChannel – Dana Moneter Internasional (IMF) menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,1 persen.
Namun, kenaikan harga minyak dunia berpotensi menekan stabilitas eksternal Indonesia, mulai dari membengkaknya defisit migas dan beban subsidi energi hingga pelemahan rupiah.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, meskipun prospek pertumbuhan Indonesia relatif terjaga, kenaikan harga energi menjadi risiko yang perlu diwaspadai.
Pasalnya, Indonesia masih berstatus sebagai importir neto minyak dan gas bumi (migas), sehingga kenaikan harga minyak dunia dapat memperlebar defisit migas dan meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara.
Dalam riset yang terbit pada 14 Oktober 2026, Rully menjelaskan, IMF mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 3,1 persen untuk 2026 dan menaikkan proyeksi 2027 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,4 persen.
Namun, proyeksi tersebut menyembunyikan perbedaan kinerja antarkelompok negara.
Pertumbuhan ekonomi negara maju diproyeksikan mencapai 2,1 persen pada 2026, naik 0,3 poin persentase dibandingkan proyeksi April 2026.
Perbaikan ini didorong oleh siklus teknologi yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Sebaliknya, proyeksi pertumbuhan ekonomi negara berkembang dan emerging markets dipangkas 0,2 poin persentase menjadi 3,7 persen.
Tekanan terutama berasal dari kontraksi ekonomi sebesar 0,3 persen di kawasan Timur Tengah dan Asia Tengah.
Di antara negara-negara ekonomi utama, pertumbuhan Amerika Serikat (AS) dipertahankan pada 2,3 persen pada 2026.
Sementara itu, ekonomi China diperkirakan melambat menjadi 4,5 persen pada 2026 dan 4 persen pada 2027.
Di tengah perbedaan prospek pertumbuhan tersebut, lonjakan harga energi menjadi salah satu risiko utama bagi perekonomian global.
IMF memperkirakan harga minyak mencapai USD95,7 per barel pada 2026, melonjak 41 persen secara tahunan, sebelum turun menjadi USD87,4 per barel pada 2027.
Kenaikan harga minyak tersebut diperkirakan mendorong inflasi global mencapai 4,7 persen pada 2026, sebelum melandai menjadi 4,1 persen pada 2027.
Risiko terhadap perekonomian global akan semakin besar apabila harga energi bertahan tinggi lebih lama.
Dalam skenario negatif, ketika harga minyak mencapai USD130 per barel hingga kuartal I-2027 dan premi tenor obligasi meningkat 60 basis poin, pertumbuhan ekonomi global pada 2027 dapat terpangkas 0,5 poin persentase.
Pada saat yang sama, inflasi global berpotensi meningkat 1,1 poin persentase.
Bagi Indonesia, IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 0,1 poin persentase menjadi 5,1 persen dan mempertahankan proyeksi 2027 pada level yang sama.
Meski demikian, posisi Indonesia sebagai eksportir batu bara tidak serta-merta melindungi perekonomian dari kenaikan harga energi.
Status sebagai importir neto minyak dan gas membuat kenaikan harga minyak justru berpotensi memperlebar defisit migas, meningkatkan kebutuhan subsidi bahan bakar, serta menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
IMF memperkirakan inflasi Indonesia mencapai 3,3 persen pada 2026.
Sementara itu, defisit transaksi berjalan diproyeksikan melebar menjadi 1,6 persen dari produk domestik bruto (PDB), dibandingkan 0,1 persen sebelumnya.
Rully menilai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berpotensi lebih rendah dibandingkan perkiraan IMF.
Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8 persen pada 2026 dan 4,9 persen pada 2027, atau masing-masing 0,3 poin persentase dan 0,2 poin persentase di bawah proyeksi IMF.
Perbedaan proyeksi tersebut didasarkan pada tekanan biaya energi yang lebih tinggi, pelemahan rupiah, serta konsolidasi fiskal yang diarahkan menuju defisit anggaran sebesar 2,4 persen dari PDB pada 2027.
Kombinasi faktor tersebut dinilai berpotensi membatasi permintaan domestik.
Dengan harga minyak yang masih tinggi dan imbal hasil obligasi global yang tetap meningkat, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan stabilitas eksternal akan menjadi prioritas utama bagi Bank Indonesia (BI) hingga 2027.
Kondisi tersebut membuat ruang BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan moneter berpotensi terbatas, terutama apabila tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.
Dengan demikian, ketahanan nilai tukar dan stabilitas eksternal menjadi faktor kunci yang perlu dicermati di tengah prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif terjaga. (Aldo Fernando)










