Bank Sentral Negara SEACEN Kokohkan Respons Bersama Hadapi Tantangan AI

Bank Sentral Negara SEACEN Kokohkan Respons Bersama Hadapi Tantangan AI

Terkini | idxchannel | Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:12
share

IDXChannel - Perkembangan kecerdasan artifisial (AI) menuntut bank sentral memperkuat pendekatan bersama dalam menjaga stabilitas dan ketahanan sistem keuangan kawasan.

Kerja sama regional menjadi semakin strategis untuk membangun tata kelola AI yang terpercaya, memperkuat kapasitas pengawasan, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi bagi sistem pembayaran dan inklusi keuangan.

Demikian disampaikan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Ricky P. Gozali, pada pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi South East Asian Central Banks (SEACEN) di Bali, Indonesia (5/10).

“AI menghadirkan tantangan yang perlu dihadapi secara bersama oleh berbagai negara," ujar Ricky dikutip Selasa (6/10/2026).

Untuk merespons perkembangan tersebut, Ricky menekankan tiga prioritas bank sentral di era AI. Pertama, membangun tata kelola AI yang terpercaya, transparan, dan akuntabel. Kedua, memanfaatkan AI untuk ekosistem pembayaran yang lebih efisien, aman, inklusif, dan berdaya tahan.

Ketiga, memperkuat kolaborasi regional melalui SEACEN, antara lain dengan dialog kebijakan, pengembangan kapasitas, dan riset bersama.

"AI menghadirkan tantangan yang tidak dapat dihadapi satu negara sendiri. Melalui kolaborasi di kawasan, seperti SEACEN, kita dapat mengembangkan pendekatan bersama yang mendorong inovasi sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan," ujar Ricky.

Dia juga menekankan pentingnya pembelajaran dan pengalaman bersama dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin cepat.

“Seiring dengan semakin cepatnya transformasi teknologi, pengetahuan dan pengalaman bersama akan semakin berharga dalam membentuk masa depan bank sentral," tutur Ricky.

Sementara itu, Direktur Eksekutif The SEACEN Centre, Cynyoung Park, menyoroti pentingnya interoperabilitas sistem pembayaran lintas negara dalam mendukung integrasi ekonomi kawasan.

Menurutnya, keterhubungan antarsistem perlu ditopang standar dan pengaturan yang kompatibel, serta kerangka pengelolaan likuiditas dan risiko penyelesaian transaksi yang jelas. Penguatan fondasi tersebut akan mendukung perluasan konektivitas pembayaran untuk perdagangan dan investasi regional.

Di sisi lain, Kepala Ekonom United Nations Development Programme (UNDP) untuk Asia dan Pasifik, Philip Schellekens, menekankan pentingnya kepercayaan sebagai fondasi peran bank sentral di tengah perkembangan AI.

Menurutnya, bank sentral perlu memahami perubahan yang ditimbulkan AI terhadap perekonomian dan teknologi, serta mengantisipasi risiko sistemik dari ketergantungan pada penyedia platform AI tertentu.

Kepercayaan menjadi fondasi utama bank sentral dalam menjaga stabilitas dan memastikan pemanfaatan AI memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian.

Konferensi yang mengangkat tema "Central Banking in the Age of Artificial Intelligence: Payments, Regulation, and Financial Stability for a Connected Asia" mempertemukan berbagai perspektif mengenai perkembangan AI dan implikasinya terhadap kebijakan bank sentral.

Sesi diskusi panel menghadirkan narasumber dari European Central Bank, Bank of Korea, Hong Kong Monetary Authority, Banque de France, Asian Development Bank Institute, University of Tokyo, Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artifisial (KORIKA), dan Bank Rakyat Indonesia.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan 25th SEACEN Executive Committee (EXCO) Meeting pada 6 Oktober 2026 yang dipimpin Ricky. Pertemuan membahas penguatan tata kelola dan kelembagaan SEACEN sebagai pusat pembelajaran dan kolaborasi bank sentral di kawasan.

"Penguatan tata kelola, efektivitas organisasi, dan akuntabilitas menjadi landasan penting agar kolaborasi melalui SEACEN terus memberikan nilai tambah bagi anggotanya," tutur Ricky.

Ke depan, Bank Indonesia akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi dengan bank sentral serta mitra internasional untuk memperkuat kesiapan kawasan dalam membangun ekosistem keuangan yang inovatif, aman, inklusif, dan berdaya tahan


(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik