Saham AADI hingga PTBA Memanas saat Harga Batu Bara Sentuh USD150

Saham AADI hingga PTBA Memanas saat Harga Batu Bara Sentuh USD150

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:10
share

IDXChannel - Harga batu bara kembali menyentuh USD150 per ton, level tertinggi sejak Juni 2026. Kenaikan tersebut turut menopang pergerakan sejumlah saham emiten batu bara pada perdagangan Selasa (6/10/2026).

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 10.16 WIB, saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menguat 4,29 persen ke Rp12.775 per unit. Dalam sepekan, saham BYAN telah naik 7,76 persen.

Saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) naik 3,72 persen ke Rp222 per unit, meski dalam sepekan masih turun 4,35 persen.

Sementara itu, saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menguat 3,14 persen ke Rp12.325 per unit dan telah naik 11,31 persen dalam sepekan.

Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 2,81 persen dan menguat 3,39 persen dalam sepekan. Kemudian, saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 2,75 persen dan mencatat kenaikan 8,04 persen dalam sepekan.

Saham PT Indika Energy Tbk (INDY) menguat 2,72 persen, dengan kenaikan 1,14 persen dalam sepekan. Selanjutnya, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) naik 2,35 persen, meski masih turun 2,26 persen dalam sepekan.

Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) naik 2,05 persen dan menguat 0,34 persen dalam sepekan.

Saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) naik 1,47 persen, dengan kenaikan 3,70 persen dalam sepekan.

Sementara itu, saham PT Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI) naik 1,37 persen dan menguat 2,08 persen dalam sepekan.

Pergerakan saham-saham tersebut terjadi seiring harga batu bara kembali menguat di tengah prospek permintaan global yang diperkirakan mencapai rekor tahun ini.

Sementara pasokan dari Indonesia menghadapi sejumlah kendala.

Mengutip data Trading Economics, harga batu bara mencapai USD150 per ton, level tertinggi sejak Juni 2026.

Dalam empat pekan terakhir, harga batu bara tercatat naik 1,33 persen, sedangkan dalam 12 bulan terakhir telah melonjak 41,86 persen.

Menurut BRI Danareksa Sekuritas, Selasa (6/10/2026), permintaan batu bara global diperkirakan mencapai rekor tertinggi tahun ini seiring gangguan pasokan gas akibat perang Iran.

Harga liquefied natural gas (LNG) yang melonjak akibat blokade Selat Hormuz juga mendorong sejumlah negara meningkatkan penggunaan pembangkit listrik berbasis batu bara. China, India, Jepang, Korea Selatan, hingga sebagian negara Eropa berpotensi meningkatkan konsumsi batu bara sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Di sisi pasokan, ekspor thermal coal Indonesia justru menunjukkan penurunan.

BRI Danareksa mencatat ekspor thermal coal Indonesia turun 23 persen secara tahunan pada Agustus 2026, menjadi level terendah untuk bulan tersebut dalam lima tahun terakhir.

Penurunan tersebut dipengaruhi kuota produksi, ketidakpastian kebijakan, serta gangguan pengiriman.

“Kondisi tersebut berpotensi menjaga harga batu bara tetap tinggi di tengah keterbatasan supply dan meningkatnya kebutuhan energi,” tulis BRI Danareksa. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik