Harga Minyak Turun Hampir 2 Persen, Pasokan Timur Tengah Mulai Bertambah
IDXChannel - Harga minyak turun pada perdagangan Senin (5/10/2026), setelah ekspor minyak mentah dari Timur Tengah meningkat dan negara-negara G7 berkomitmen menambah pasokan.
Namun, tekanan jual masih terbatas karena kekhawatiran gangguan pasokan akibat perang AS dengan Iran masih membayangi pasar.
Harga minyak Brent berjangka ditutup merosot 1,89 persen menjadi USD100,32 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS terkoreksi 1,84 persen menjadi USD89,43 per barel.
Data pelayaran yang dirilis pada Senin menunjukkan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah berada di atas level sebelum perang selama empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September, meski serangan terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz terus terjadi.
“Meski kapal tanker masih menghadapi risiko, harapannya adalah pada akhirnya lebih banyak minyak bisa masuk ke pasar,” kata Presiden Lipow Oil Associates, Andrew Lipow, seperti dikutip Reuters.
Sementara itu, negara-negara G7 pada Jumat sepakat melepas 100 juta barel diesel dan minyak mentah dari cadangan darurat.
Bandara Soetta Ditutup hingga Pukul 13.30 WIB, 209 Penerbangan Terdampak Erupsi Anak Krakatau
Mereka juga berkomitmen untuk tidak memberlakukan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump.
Namun, analis Raymond James Pavel Molchanov mengatakan pasar masih skeptis karena belum jelas berapa banyak minyak yang dijanjikan dalam kesepakatan baru tersebut berasal dari sisa volume pelepasan cadangan darurat sebesar 400 juta barel yang dikoordinasikan oleh International Energy Agency (IEA) dan diumumkan pada Maret.
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan pekan lalu bahwa negara-negara anggota telah melepaskan sekitar dua pertiga dari total 400 juta barel yang disepakati.
Perusahaan minyak asal Inggris BP telah menyesuaikan operasional kilangnya untuk meningkatkan produksi diesel. Hal tersebut disampaikan CEO BP Meg O'Neill dalam konferensi Energy Intelligence di London, Senin.
“Gencatan senjata di Timur Tengah masih sulit tercapai, sementara kembali pecahnya permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran akan memastikan serangan terhadap infrastruktur energi dan kapal terus berlanjut. Kondisi ini menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi,” kata analis PVM Oil Associates Tamas Varga.
CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan dalam konferensi Energy Intelligence bahwa pasokan minyak mentah dan bahan bakar olahan diperkirakan tetap ketat.
Menurut dia, pengisian kembali stok minyak global setelah penarikan cadangan darurat dapat memerlukan waktu hingga dua tahun. (Aldo Fernando)







