Bursa Asia Melemah Jelang Akhir Pekan, Sejumlah Pasar Libur
IDXChannel - Bursa Asia cenderung melemah pada perdagangan Jumat (25/9/2026), di tengah minimnya aktivitas perdagangan karena sejumlah pasar utama kawasan masih libur.
Bursa Hong Kong memimpin pelemahan, sementara saham Jepang justru menguat ditopang lonjakan saham keuangan.
Indeks Hang Seng Hong Kong melemah 1,81 persen, sedangkan ASX 200 Australia turun 0,50 persen. Berbeda, indeks STI Singapura bergerak stagnan.
Sebaliknya, pasar saham Jepang bergerak menguat.
Nikkei Stock Average naik 1,21 persen. Mengutip The Wall Street Journal, saham-saham sektor keuangan menjadi penopang utama setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tenor panjang melonjak pada perdagangan sebelumnya.
Saham Mitsubishi UFJ Financial Group menguat 2,5 persen, sedangkan Mizuho Financial Group naik 3,1 persen.
Penguatan tersebut terjadi setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun masing-masing mencapai level tertinggi sejak 2007 dan 2004.
Pergerakan pasar juga dipengaruhi kenaikan imbal hasil obligasi domestik Jepang. Menurut catatan Trading Economics, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 1996.
Di pasar valuta asing, dolar AS berada di level 158,76 yen, menguat dibandingkan posisi 158,40 yen pada penutupan perdagangan Tokyo sehari sebelumnya.
Investor kini mencermati pergerakan imbal hasil obligasi domestik serta perkembangan pertemuan AS dan China.
Sementara itu, sejumlah bursa Asia masih tutup untuk libur.
Kospi Korea Selatan masih tidak diperdagangkan untuk hari kedua berturut-turut karena libur Chuseok. Bursa Taiwan dan pasar China juga tutup dalam rangka libur Festival Pertengahan Musim Gugur.
Pergerakan bursa Asia turut mendapat sentimen dari perkembangan geopolitik Timur Tengah.
Harga minyak sedikit melemah setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran tengah mempertimbangkan kesepakatan bertahap yang dapat membuka kembali Selat Hormuz dan mencabut blokade AS terhadap pelabuhan Iran.
Perkembangan tersebut meredakan sebagian tekanan terhadap pasar saham yang sebelumnya dibebani lonjakan harga minyak.
Harga minyak Brent sempat naik lebih dari 3 persen hingga mendekati USD107 per barel setelah serangan rudal Houthi ke Arab Saudi memicu kembali kekhawatiran gangguan pasokan.
Dari Wall Street, indeks S&P 500 ditutup nyaris stagnan pada perdagangan Kamis (24/9). S&P 500 turun 0,02 persen ke 7.704,13, sedangkan Nasdaq naik tipis 0,01 persen menjadi 26.939,37. Dow Jones Industrial Average melemah 0,31 persen ke 51.349,98.
Investor juga mencermati perkembangan negosiasi AS-China yang berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan perdagangan baru.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan perdagangan global, pelaku pasar masih menimbang dampaknya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi dan aset berisiko. (Aldo Fernando)









