Pencari Rumah Mulai Hitung Waktu Tempuh, Properti di Jakarta Pusat Kian Diminati
IDXChannel - Pencari properti di Jabodetabek semakin selektif dalam menentukan kompromi antara harga rumah, luas bangunan, dan lokasi.
Flash Report September 2026 by Rumah123 menunjukkan Jakarta Pusat mencatat kenaikan proporsi popularitas pencarian properti tertinggi secara tahunan di Indonesia, sebesar 0,9 persen. Perubahan ini terjadi ketika pasar rumah sekunder nasional masih bergerak terbatas, dengan harga tumbuh 0,8 persen secara tahunan dan turun 0,1 persen secara bulanan pada Agustus 2026.
Kenaikan proporsi popularitas pencarian secara tahunan juga tercatat di Bogor sebesar 0,3 persen, serta Bekasi, Batam, dan Jakarta Utara yang masing-masing naik 0,2 persen. Di sisi lain, Depok mengalami penurunan proporsi popularitas pencarian terbesar secara tahunan sebesar 0,5 persen, disusul Semarang dan Jakarta Timur yang masing-masing turun 0,4 persen.
Indikator popularitas lokasi menunjukkan perubahan porsi ketertarikan pencari properti terhadap suatu wilayah dibandingkan wilayah lain pada periode yang sama. Karena itu, data ini tidak serta-merta menggambarkan jumlah transaksi, tetapi menjadi sinyal awal mengenai lokasi yang semakin banyak atau semakin sedikit dipertimbangkan oleh pencari properti.
Head of Market Research Rumah123 Marisa Jaya mengatakan, pergeseran tersebut menunjukkan bahwa konsumen kini semakin memperhitungkan total nilai dari sebuah hunian, bukan hanya harga beli atau potensi kenaikan nilai properti.
“Pencari properti saat ini semakin menghitung nilai waktu. Mereka tidak hanya bertanya apakah harga rumahnya sesuai kemampuan, tetapi juga apakah lokasi tersebut membuat rutinitas sehari-hari lebih efisien. Waktu tempuh, akses terhadap tempat kerja dan fasilitas keluarga, serta biaya mobilitas menjadi pertimbangan yang makin nyata dalam proses memilih hunian,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Sabtu (19/9/2026).
Pada pergerakan bulanan, arah minat pencari properti terlihat lebih beragam. Bogor mencatat kenaikan proporsi popularitas terbesar di Jabodetabek, sebesar 0,2 persen, disusul Jakarta Barat dan Bekasi yang masing-masing naik 0,1 persen.
Sementara itu, penurunan proporsi popularitas bulanan terbesar terjadi di Bandung Barat sebesar 0,7 persen, Denpasar sebesar 0,6 persen, dan Karawang sebesar 0,4 persen.
Menurut Marisa, data tersebut tidak berarti kawasan penyangga kehilangan daya tarik secara menyeluruh. Pergerakan Bogor dan Bekasi menunjukkan bahwa wilayah penyangga dengan keseimbangan antara akses, fasilitas, dan harga masih menarik perhatian pencari properti.
Namun, konsumen kini semakin membedakan kawasan yang dapat mendukung kualitas hidup sehari-hari dengan kawasan yang membutuhkan kompromi perjalanan lebih besar.
“Yang dicari konsumen bukan semata-mata pusat kota atau pinggiran kota. Mereka mencari lokasi yang paling sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Dalam konteks ini, rumah sekunder yang lebih compact, apartemen, atau properti yang membutuhkan renovasi di lokasi strategis dapat menjadi alternatif yang relevan bagi sebagian pencari rumah,” kata dia.
Di tingkat tahunan, Bogor memimpin pertumbuhan harga rumah sekunder di Jabodetabek sebesar 3,2 persen, diikuti Bekasi 1,9 persen, Depok 0,4 persen, dan Jakarta 0,2 persen. Angka ini memperlihatkan kenaikan minat pencarian di wilayah inti Jakarta belum otomatis diterjemahkan menjadi kenaikan harga tercepat.
"Pasar properti Jabodetabek bergerak dengan karakter yang berbeda di setiap kota dan koridor hunian," katanya.
Secara nasional, pertumbuhan harga rumah sekunder juga menunjukkan ketimpangan yang lebar antarkota. Makassar mencatat kenaikan harga tahunan tertinggi sebesar 9,5 persen, diikuti Medan 8,9 persen dan Denpasar 7,4 persen.
Ketiga kota tersebut tumbuh jauh di atas rata-rata nasional sebesar 0,8 persen. Sementara itu, Jakarta, Surabaya, dan Surakarta masing-masing hanya mencatat pertumbuhan 0,2 persen, 0,3 persen, dan 0,1 persen.
VP of Marketing Rumah123 Firman Pamungkas menyampaikan, ketimpangan pertumbuhan antarkota menunjukkan bahwa rata-rata nasional tidak cukup untuk memahami kondisi pasar properti secara utuh.
“Pasar properti Indonesia tidak bergerak serempak. Minat pencarian, harga, serta pasokan dapat bergerak berbeda di setiap kota. Jakarta Pusat yang memimpin pertumbuhan perhatian pencari properti menunjukkan kuatnya nilai lokasi di area inti, sementara pertumbuhan harga tertinggi di Makassar, Medan, dan Denpasar menunjukkan bahwa fundamental pasar lokal tetap menjadi penggerak utama,” ujar Firman.
Pada Agustus 2026, sebanyak 11 dari 13 kota dalam indeks masih mencatat kenaikan harga secara tahunan. Namun, secara bulanan, delapan dari 13 kota mengalami penurunan harga.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar rumah sekunder tengah memasuki fase normalisasi. Harga tidak turun secara serentak, tetapi pertumbuhannya tidak lagi merata dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lokal.
Konteks keterjangkauan juga menjadi penting. Dengan inflasi tahunan sebesar 3,2 persen, pertumbuhan harga rumah sekunder nasional sebesar 0,8 persen masih berada 2,4 poin persentase dibawah kenaikan biaya hidup.
Pada saat yang sama, volume suplai rumah sekunder turun 0,5 persen secara bulanan dan stagnan secara tahunan. Dalam kondisi pasar seperti ini, pencari properti memiliki alasan lebih besar untuk membandingkan pilihan berdasarkan lokasi, harga, serta kebutuhan hidup jangka panjang, bukan semata-mata mengejar luas rumah atau harga terendah.
Viral! Kalah Lomba Sepeda Hias, Anak Ini Malah Jualan Kopi Keliling, Sikapnya Menuai Pujian
Tangerang masih menjadi kota dengan proporsi popularitas pencarian properti terbesar pada Agustus 2026, sebesar 14,6 persen. Jakarta Selatan berada di posisi berikutnya dengan 13,0 persen, disusul Jakarta Barat sebesar 10,4 persen. Data ini menunjukkan bahwa perhatian pencari properti masih terkonsentrasi pada sejumlah pasar utama di Jabodetabek.
“Bagi pelaku industri, data ini menjadi pengingat bahwa produk properti tidak cukup hanya menawarkan ruang yang lebih besar atau harga yang lebih rendah. Konsumen semakin ingin mengetahui konsekuensi nyata dari setiap pilihan lokasi. Karena itu, pengembang, pemilik properti, dan investor perlu membaca kebutuhan pasar secara lebih lokal dan lebih spesifik,” kata Firman.
(Dhera Arizona)









