Kebutuhan Baterai Tak Hanya Buat EV, Tapi Juga Data Center; IBC Siapkan Langkah Strategis Ini
IDXChannel - Industri baterai nasional ke depan diperkirakan semakin berkembang seiring tumbuhnya penggunaan kendaraan listrik dan transisi energi. Pemicu lainnya adalah adanya kebutuhan sistem penyimpanan energi listrik yang berasal dari sumber nonfosil.
"Yang perlu dicermati adalah pertumbuhan ekonomi digital, terutama dari masifnya pembangunan pusat data. Ini yang terus meningkatkan kebutuhan baterai untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan dan penyimpanan energi," kata Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif dalam diskusi media di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Menurut Aditya, kebutuhan battery energy storage system (BESS) bisa mencapai 30 kali lipat dalam 12 tahun mendatang. Proyeksi ini seiring dengan meningkatnya kapasitas pembangkit listrik dengan energi baru dan terbarukan (EBT) yang diperkirakan naik 3 kali lipat dalam satu decade ke depan.
"Konsumsi listrik data center diperkirakan mencapai 1.200 terawatt hour (Twh) pada 2035, naik signifikan disbanding tahun lalu sebesar 485 Twh," ujar Aditya.
Menurut Aditya, dalam perkembangannya ada beberapa kunci pertumbuhan dalam industri baterai nasional. Dia mencontohkan, jika dulu kebutuhan baterai hanya terkait transisi energi, namun sekarang kebutuhannya ada pada sektor digital economy.
“Transisi energi dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) ke energi berbasis listrik, ini akan mendorong penggunaan baterai. Sedangkan pertumbuhan ekonomi digital, khususnya pembangunan pusat data, bakal meningkatkan kebutuhan baterai untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan dan penyimpanan energy,” katanya.
Berkembangnya industri baterai di Tanah Air, kata Aditya, sangat berkaitan erat dengan ekosistem hilirisasi sektor tambang mineral sedang dikembangkan oleh pemerintah. Untuk mendukung program ini, IBC yang merupakan perusahaan patungan sejumlah BUMN, kini memiliki sejumlah portofolio yang dikembangkan bersama mitra strategis, termasuk Contemporary Amperex Technology Co Limited (CATL).
Dalam operasionalnya pabrik yang menelan investasi USD1,1 miliar di Karawang, Jawa Barat itu memproduksi battery electric vehicle (BEV) dan hybrid electric vehincle (HEV) dengan total kapasitas 6,9 GWh.
“Pabrik ini sudah beroperasi sejak Juli lalu. Kita sudah mengirimkan 600 pegawai kita untuk training di China sebagai bentuk transfer teknologi sehingga bisa menjalankan fasilitas produksi sendiri,” katanya.
Dia menambahkan, pabrik di Karawang, dikembangkan bertahap di mana pada tahap pertama terdapat tiga line produksi. Tahap berikutnya, pada Oktober 2026, pabrik IBC akan beroperasi penuh.
Selain itu, IBC juga akan mengembangkan fasilitas bahan baku baterai di Tanjung Buli, Halmahera, dengan kapasitas 30.000 ton dengan investasi USD600 juta. Fasilitas tersebut akan memproduksi precursor cathode active material (PCAM) dan cathode active material (CAM) berbasis nickel mangan cobalt (NMC). Jika tidak ada aral melintang, proyek tesebut diproyeksikan beroperasi pada 2028.










