Saham Rokok Berguguran usai Reshuffle Menkeu, Risiko CHT 2027 Kembali Menghantui

Saham Rokok Berguguran usai Reshuffle Menkeu, Risiko CHT 2027 Kembali Menghantui

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 15 September 2026 - 15:10
share

IDXChannel - Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara dinilai kembali menghidupkan kekhawatiran terhadap kebijakan cukai hasil tembakau (CHT) pada 2027. Sentimen tersebut langsung menekan saham-saham emiten rokok pada perdagangan Selasa (15/9/2026).

Presiden Prabowo Subianto melantik Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan pada Senin (14/9/2026), menggantikan Purbaya. Sebelumnya, Suahasil menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan pernah memimpin Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan.

Menurut MNC Sekuritas, Selasa (15/9), kembalinya Suahasil ke posisi puncak Kementerian Keuangan membuat risiko kenaikan CHT pada 2027 kembali menjadi perhatian pasar, terutama setelah pemerintah membekukan tarif cukai pada 2026.

Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan rekam jejak kebijakan cukai pada periode sebelumnya.

MNC Sekuritas mencatat tarif CHT sempat naik sekitar 10 persen pada 2023-2024 ketika Suahasil masih berada di lingkungan Kementerian Keuangan.

“Reshuffle Menkeu ke Suahasil Nazara mengembalikan risiko kenaikan CHT 2027 pasca-freeze 2026,” tulis MNC Sekuritas dalam laporannya.

Sentimen tersebut tercermin dari koreksi tajam saham rokok. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 14.54 WIB, saham PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) anjlok 7,64 persen ke level Rp665 per unit.

Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) juga turun 5,92 persen menjadi Rp17.875 per unit.

Sementara itu, PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) terkoreksi 2,87 persen ke Rp1.525 per unit setelah sempat menyentuh level terendah harian Rp1.470 per saham.

Tekanan sektor tembakau tidak hanya berasal dari potensi kenaikan CHT.

Usulan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Kementerian Kesehatan untuk melarang total produk vape melalui Peraturan Presiden (Perpres), menyusul kekhawatiran terkait maraknya narkotika cair, turut menjadi headwind tambahan bagi industri.

MNC Sekuritas menilai dampak langsung terhadap HMSP relatif terbatas karena kontribusi bisnis smoke-free masih kurang dari 3 persen terhadap pendapatan.

Namun, potensi perubahan regulasi tersebut tetap menambah tekanan terhadap sentimen sektor rokok.

Dengan kombinasi ketidakpastian CHT 2027 dan risiko regulasi produk alternatif, sektor tembakau kini menghadapi regulatory overhang dalam jangka pendek.

Investor diperkirakan masih akan bersikap hati-hati hingga pemerintah memberikan kejelasan mengenai arah tarif CHT untuk 2027.

Sementara, analis Bahana Sekuritas Raja Abdalla menilai, pergantian Menkeu dinilai membawa perubahan arah kebijakan fiskal Indonesia, dari dorongan stimulus agresif menuju penguatan disiplin dan kredibilitas fiskal.

Kondisi ini dinilai tetap positif bagi pasar saham meski ruang untuk stimulus jangka pendek berpotensi lebih terbatas.

Bahana menilai penunjukan Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan akan dipandang positif oleh pasar.

Latar belakang teknokrat dan pengalaman panjangnya di Kementerian Keuangan dinilai memberikan kesinambungan sekaligus pemahaman yang kuat terhadap kerangka fiskal Indonesia.

Suahasil sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019 dan pernah menjadi Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF).

Menurut Raja, komitmennya untuk menjaga defisit anggaran di bawah batas 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi sinyal awal bahwa pemerintah akan lebih menekankan disiplin fiskal.

"Pasar kemungkinan akan lebih menghargai kredibilitas fiskal dibandingkan tambahan stimulus jangka pendek, terutama di tengah latar belakang global yang menantang dan harga minyak yang lebih tinggi," tulis Raja dalam riset yang terbit pada 14 September 2026. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik