50 Ribu Hektare Lahan Pertanian Terdampak Kekeringan Imbas El Nino

50 Ribu Hektare Lahan Pertanian Terdampak Kekeringan Imbas El Nino

Terkini | idxchannel | Senin, 14 September 2026 - 13:54
share

IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menyebut sekitar 50.000 hektare lahan pertanian telah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Meski demikian, dia menegaskan kondisi tersebut masih dalam batas aman dan belum mengganggu produksi pangan nasional.

"Kekeringan yang masuk mungkin sekarang ya estimasi 50 ribuan hektar. Tapi itu masih posisi aman. Kita lihat dari BPS produksi kita masih aman," katanya saat dijumpai di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan pada Senin (14/9/2026).

Dia menjelaskan, lahan yang terdampak kekeringan terutama berada di daerah upland atau wilayah dengan kondisi geografis yang lebih tinggi. Wilayah tersebut tersebar di Pulau Jawa maupun luar Jawa. Adapun untuk mengantisipasi dampak kekeringan, pemerintah, kata Amran telah menyiapkan sejumlah langkah.

"Solusinya adalah kita pompanisasi, kemudian irigasi, irpom (irigasi pompa), sumur dalam, sumur dangkal," katanya.

Amran mengatakan pemerintah juga memfokuskan penanaman di wilayah yang telah memiliki jaringan irigasi. Menurutnya, perbaikan irigasi yang telah dilakukan mencakup sekitar 3-4 juta hektare lahan. Selain itu, digunakan juga benih yang lebih tahan terhadap kekeringan serta metode budidaya yang diklaim mampu meningkatkan produktivitas.

"Caranya adalah yang pertama, benih tahan kekeringan. Yang kedua, metode baru yang produksinya bisa 10 ton, 12 ton. Metode AAS (Modern - Advanced Agricultural System)," ucap Amran.

Dia menyebut penerapan metode tersebut telah menunjukkan hasil produksi sekitar 8-13 ton, dengan rata-rata mencapai 10 ton. Sementara pada lahan yang memiliki sumber air, pemerintah akan memperkuat pasokan melalui pompa.

Amran pun memastikan ketersediaan beras masih mencukupi meski Indonesia menghadapi El Nino. Perhitungan tersebut antara lain memperhitungkan standing crop atau tanaman yang saat ini masih berada di lahan, serta stok beras yang tersedia di masyarakat dan Bulog.

"Standing crop adalah kurang lebih 3 hampir 4 juta, 3,8 juta. Standing crop artinya yang tanaman berdiri sekarang. Kemudian, ada beras di hotel, mereka hotel, restoran, dan rumah-rumah seluruh Indonesia," tuturnya.

Di samping itu, Amran menyebut stok beras di Bulog mencapai sekitar 2,6 juta ton. Dengan kebutuhan sekitar 2,6 juta ton per bulan, stok dan produksi yang ada dinilai masih mampu menopang kebutuhan hingga memasuki periode panen berikutnya.

"Kalau 2,6 juta per bulan, berarti 10 bulan kan? 10 bulan ke depan, sekarang September ya? Oktober, November, Desember, Januari, Februari. Overlap. Panen puncak di Maret lagi. Jadi aman," tuturnya.



(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik