Nilai Ekspor RI Naik 6,05 Persen di Juli 2026, Capai USD26,22 Miliar
IDXChannel - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Juli 2026 sebesar USD26,22 miliar. Angka tersebut tumbuh 6,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, merinci untuk ekspor migas tercatat USD790 juta atau turun 14,58 persen (yoy). Sementara ekspor nonmigas naik 6,84 persen (yoy) dengan nilai USD25,45 miliar.
“Kenaikan nilai ekspor Juli 2026 secara tahunan terutama didorong oleh kenaikan nilai ekspor nonmigas yaitu pada beberapa komoditas terutama bahan bakar mineral HS27 naik sebesar 34,86 persen secara year-on-year-nya dengan andil sebesar 3,41 persen terhadap kenaikan total ekspor,” ujar Ateng dalam Rilis BPS di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Kemudian, besi dan baja HS72 naik juga cukup besar yaitu 20,31 persen (yoy) dengan andil 1,89 persen.
Demikian juga untuk mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya atau HS85 juga naiknya cukup besar yaitu naik 22,52 persen (yoy) dan memberikan andil terhadap total nilai ekspor sebesar 1,46 persen.
Sementara itu, secara kumulatif ataupun sepanjang Januari sampai dengan Juli 2026, total nilai ekspor mencapai USD167,03 miliar atau naik 4,43 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Untuk nilai ekspor migas tercatat USD7,02 miliar atau turun sebesar 10,63 persen. Sementara itu, nilai ekspor nonmigas tercatat naik 5,21 persen senilai USD160,01 miliar.
"Peningkatan ekspor nonmigas tersebut utamanya pada nikel dan barang daripadanya, ini HS75, bahan bakar mineral, HS27, dan juga lemak dan minyak hewani nabati atau HS15," kata Ateng.
Menurut sektornya, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terutama terjadi pada sektor industri pengolahan yang mengalami peningkatan sebesar 7,16 persen.
Sektor industri pengolahan juga menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang Januari sampai dengan Juli 2026 dengan andilnya sebesar 5,73 persen.
Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar terutama pada produk olahan nikel, pada kimia dasar organik yang bersumber dari hasil pertanian, kimia dasar organik lainnya, aluminium, serta juga minyak kelapa sawit.
Jika dilihat menurut negara dan kawasan tujuan utamanya, nilai ekspor nonmigas ke China tercatat sebesar USD40,62 miliar atau naik sebesar 18,01 persen jika dibandingkan pada kondisi Januari sampai dengan Juli tahun 2025.
Kenaikan ekspor nonmigas ke China utamanya pada nikel dan barang daripadanya, ini di HS75, lemak dan minyak hewani nabati, HS15, dan juga bahan bakar mineral pada HS27.
Kemudian, jika dibandingkan secara kumulatif dengan periode yang sama tahun yang lalu, maka pada Januari sampai dengan Juli 2026, ekspor nonmigas ke lima negara atau kawasan tujuan mengalami peningkatan. Namun, negara kawasan tujuan lainnya ini mengalami penurunan.
(NIA DEVIYANA)










