Pemerintah Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen, Investasi Bakal Jadi Andalan

Pemerintah Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen, Investasi Bakal Jadi Andalan

Terkini | idxchannel | Minggu, 23 Agustus 2026 - 21:24
share

IDXChannel - Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi Indonesia mendekati 6 persen pada akhir 2026. Untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan investasi dinilai harus lebih cepat dibandingkan produk domestik bruto (PDB), disertai peningkatan produktivitas dan ekspor bernilai tambah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, ekonomi Indonesia telah tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026. Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi dalam 13 tahun terakhir dan menempatkan Indonesia di antara negara-negara G20 dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.

“Semester I ini kita tumbuh 5,45 persen, dan ini adalah pertumbuhan tertinggi dalam 13 tahun terakhir, termasuk di antara negara G20. Jadi menjelang sampai akhir tahun Bapak Presiden meminta kita mendorong supaya mendekati 6 persen di akhir tahun. Dan tentu ini bisa menjadi tantangan dan juga harus kerja keras,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi, Minggu (23/6/2026).

Menurut Airlangga, untuk mendorong pertumbuhan dari 5,45 persen menuju 6 persen, diperlukan tambahan pertumbuhan yang bersumber dari sejumlah sektor. Salah satunya melalui investasi yang harus tumbuh lebih cepat dibandingkan PDB dan diarahkan pada proyek-proyek bernilai tambah tinggi dengan memanfaatkan rantai nilai di dalam negeri.

Selain investasi, pemerintah mendorong peningkatan produktivitas sumber daya manusia serta penguatan ekspor bernilai tambah. Efisiensi logistik juga dinilai penting agar ekspor Indonesia dapat semakin kompetitif di tengah dinamika perdagangan global.

Pemerintah juga terus memperkuat enam mesin pertumbuhan baru, yakni hilirisasi dan upstreaming, swasembada energi, ekosistem bulion dan bank emas, pengelolaan devisa hasil ekspor sumber daya alam, digitalisasi termasuk semikonduktor dan artificial intelligence (AI), serta pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) dan kawasan industri.

Dari sisi investasi, pemerintah mendorong hilirisasi dan upstreaming melalui berbagai proyek bernilai tambah. Hingga saat ini, terdapat 26 proyek groundbreaking yang masuk dalam agenda tersebut dan diharapkan dapat memperkuat rantai nilai industri di dalam negeri.

Sementara itu, dari sisi energi, pemerintah telah mengimplementasikan program B50 sejak 1 Juli 2026. Pemerintah juga mengembangkan ekosistem bank emas (bullion bank) yang saat ini mengelola sekitar 179 ton emas dengan nilai sekitar Rp360 triliun.

Airlangga menambahkan pemerintah juga memperluas akses pasar melalui diplomasi ekonomi. Indonesia saat ini memiliki 25 perjanjian dagang yang telah diratifikasi, sedangkan 13 perjanjian lainnya masih dalam proses perundingan.

“Dengan fundamental ekonomi yang kuat, kebijakan fiskal yang prudent, kebersamaan antara Pemerintah dan dunia usaha, kami ingin mendorong bahwa ke depan kita bisa menjaga ketahanan perekonomian dan juga mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi dan inklusif. Karena kalau kita memang ingin negara kita ini maju dan sejahtera, kita harus tumbuh lebih tinggi,” kata Airlangga.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik