Transformasi BUMN Dinilai Dongkrak Nilai Aset Negara dan Perkuat Daya Saing

Transformasi BUMN Dinilai Dongkrak Nilai Aset Negara dan Perkuat Daya Saing

Terkini | idxchannel | Sabtu, 15 Agustus 2026 - 17:20
share

IDXChannel — Transformasi dan restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mulai menunjukkan dampak terhadap efisiensi dan kinerja perusahaan. Presiden Prabowo Subianto menyebut penghematan biaya overhead BUMN telah mencapai sekitar Rp50 triliun, sementara laba sejumlah BUMN pada semester I-2026 juga meningkat signifikan.

“Pada tahun 2025 keuntungan BUMN mencapai Rp326 triliun, naik 75,3 persen dari tahun 2024. Dividen BUMN yang disetor tahun 2025 mencapai Rp142,3 triliun, naik 67 persen dari tahun 2024,” kata Prabowo dalam pidatonya, Jumat (14/8/2026).

Presiden juga menargetkan penghematan biaya BUMN terus meningkat hingga akhir 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi korporasi untuk meningkatkan efisiensi dan nilai aset negara.

Sejalan dengan itu, COO Danantara Dony Oskaria menegaskan streamlining BUMN bukan tujuan akhir. Penataan korporasi harus dilanjutkan dengan optimalisasi aset agar memberikan produktivitas dan nilai tambah yang lebih besar bagi negara.

“Streamlining itu bukan tujuan akhir. Yang paling penting adalah bagaimana aset-aset BUMN yang sudah ditata bisa dikelola lebih optimal, lebih produktif, dan benar-benar menciptakan nilai tambah buat negara,” kata Dony di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam konteks tersebut, konsolidasi perusahaan asset management BUMN dinilai dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat pengelolaan aset negara. Penggabungan PNM Investment Management, BNI Asset Management, dan BRI Manajemen Investasi ke dalam Mandiri Manajemen Investasi sebagai surviving entity diharapkan menciptakan skala usaha yang lebih besar dan efisien.

Ekonom Universitas Andalas Fajri Adrianto mengatakan, terdapat dua sumber utama sinergi dalam merger, yakni penguatan pendapatan (revenue enhancement) dan pengurangan biaya (cost reduction). Skala pengelolaan aset yang lebih besar juga dapat memperkuat daya saing perusahaan investasi BUMN.

“Sinerginya bisa berasal dari penguatan pendapatan dan efisiensi biaya. Dengan bergabungnya empat perusahaan ini, skala pengelolaan aset menjadi lebih besar sehingga kapasitas perusahaan investasi BUMN untuk bersaing juga semakin kuat,” kata Fajri saat dihubungi, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Fajri, efisiensi biaya menjadi manfaat yang relatif cepat terlihat setelah merger, antara lain melalui integrasi sistem informasi dan teknologi yang sebelumnya berjalan terpisah. Konsolidasi juga memungkinkan perusahaan mengevaluasi kembali aset produktif dan tidak produktif untuk meningkatkan optimalisasi.

“Indikator yang paling cepat terlihat adalah peningkatan laba, terutama melalui perbaikan struktur biaya. Misalnya, empat sistem informasi bisa diintegrasikan menjadi satu sehingga lebih efisien. Aset-aset perusahaan juga perlu diidentifikasi kembali mana yang produktif dan mana yang tidak,” ujarnya.

Fajri menambahkan, keberhasilan konsolidasi sangat ditentukan oleh tata kelola dan kemampuan membangun satu budaya korporasi. Dia mencontohkan pembentukan Bank Syariah Indonesia dari tiga bank syariah BUMN sebagai pembelajaran bahwa merger dapat menghasilkan entitas dengan skala bisnis lebih besar apabila proses integrasi berjalan efektif.

“Kalau kita melihat BSI, tiga bank syariah sebelumnya memiliki karakter dan budaya masing-masing. Setelah digabung, mereka bisa membangun satu identitas dan budaya sebagai BSI. Ini bisa menjadi pembelajaran bahwa merger dapat menciptakan nilai tambah kalau ego masing-masing entitas bisa dihilangkan dan dibangun satu tata kelola yang baru,” katanya.

(Dhera Arizona)

Topik Menarik