4 Kebiasaan Harian yang Memicu Potensi Gangguan Jantung, Ini Penjelasan Dokter

4 Kebiasaan Harian yang Memicu Potensi Gangguan Jantung, Ini Penjelasan Dokter

Terkini | idxchannel | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 12:10
share

IDXChannel—Gaya hidup serba praktis dan cepat di kalangan Generasi Z (Gen Z) ternyata menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang. Berbagai kebiasaan harian yang terkesan lumrah tanpa disadari menumpuk risiko penyakit kardiovaskular. 

Jika dibiarkan berlarut-larut, pola hidup tidak sehat sejak usia muda berpotensi memicu komplikasi kronis hingga kondisi gagal jantung di masa depan.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, dr. Bobby Arfhan Anwar, melalui edukasi di akun Instagram pribadinya, membagikan sejumlah kebiasaan buruk anak muda yang berisiko memicu masalah jantung dalam kurun waktu satu hingga dua dekade mendatang.

Berikut ini adalah 4 kebiasaan harian yang memicu potensi gangguan jantung di masam mendatang: 

1. Merokok

Salah satu kebiasaan utama yang disoroti adalah merokok. Menurutnya, penggunaan rokok konvensional maupun rokok elektrik (vape) di kalangan usia muda berpotensi merusak pembuluh darah pada jantung.

"Merokok itu warisan kuno generasi milenial dan di atasnya. Tidak ada manfaatnya, melainkan memicu kecanduan dan merusak pembuluh darah jantung. Ngevape pun bukan berarti lebih aman, karena yang dibutuhkan tubuh hanyalah udara bersih," ujar dr. Bobby, dikutip Kamis (6/8/2026).

2. Konsumsi Makanan dan Minuman Manis Berlebihan

Selain merokok, pola makan harian Gen Z juga menjadi perhatian. Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan setiap hari dinilai memicu risiko penyakit metabolik yang menjadi pemicu awal gangguan jantung.

"Gen Z yang hobi makan dan minum manis, tiap hari harus ada yang manis-manis. Konsumsi gula yang melebihi batas rekomendasi harian (maksimal 50 gram/hari) membuat kita berisiko terkena diabetes. Diabetes inilah yang meningkatkan risiko sakit jantung di kemudian hari," tuturnya.

3. Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Olahan Tinggi Garam

Ancaman tersebut diperparah oleh kegemaran mengonsumsi makanan cepat saji (fast food) serta makanan olahan (ultra-processed food/UPF) yang tinggi garam. 

"Makanan cepat saji dan UPF tinggi mengandung garam. Kelebihan konsumsi garam harian (lebih dari 5 gram/hari) meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi yang tidak dikontrol bisa berujung pada sakit jantung," tambah dr. Bobby.

4. Kurang Aktivitas Fisik (Sedentary Lifestyle)

Tak hanya faktor asupan nutrisi, kurangnya aktivitas fisik (sedentary lifestyle) juga memperburuk kondisi jantung di usia produktif. Minimnya latihan fisik secara konsisten memicu penumpukan lemak tubuh hingga obesitas.

“Gen Z yang mager dan tidak memiliki waktu khusus untuk olahraga, lingkar perutnya akan bertambah. Lama-lama ini memicu sindrom metabolik. Jantung yang tidak pernah dilatih dengan olahraga kardio rentan terhadap sakit. Makin gemuk seseorang, kerja jantungnya pun makin berat," jelasnya.

Melansir laman resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), kebiasaan-kebiasaan di atas dapat memicu gangguan jantung kronis hingga berakhir pada gagal jantung—kondisi yang merupakan stadium akhir dari penyakit jantung. 

Gagal jantung dapat diawali oleh penyakit arteri koroner akibat penyumbatan pembuluh darah, hipertensi, penyakit ginjal, hingga diabetes melitus.

Penyakit jantung saat ini menjadi perhatian serius pemerintah. Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes, Azhar Jaya, mengungkapkan bahwa penyakit jantung berada di urutan kedua penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

“Di Indonesia ada tiga penyakit dengan angka kematian tertinggi, yaitu stroke sebanyak 300.000-an, jantung 200.000-an, kemudian kanker. Khusus untuk jantung, gagal jantung adalah salah satu penyebab kematian yang harus kita waspadai,” ucap Azhar dalam konferensi pers di RSUP Cipto Mangunkusumo, Rabu (5/8/2026).

Azhar menambahkan, Indonesia saat ini mengalami keterbatasan donor jantung, padahal transplantasi merupakan solusi utama bagi penderita gagal jantung kronis. 

“Jika terjadi kegagalan kronis, pilihan utamanya adalah transplantasi jantung. Namun, mencari donor dan kesiapan dokternya masih menjadi tantangan besar,” ucapnya.


(Nadya Kurnia)

Topik Menarik