Rekor Harga Tembaga dan Prospek Saham Amman Mineral (AMMN)

Rekor Harga Tembaga dan Prospek Saham Amman Mineral (AMMN)

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 10:10
share

IDXChannel – Harga tembaga dunia bertahan di dekat rekor tertinggi di atas USD6,6 per pon di tengah ketatnya pasokan global dan lonjakan permintaan dari pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

Kondisi tersebut dinilai menjadi katalis positif bagi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), yang diproyeksikan memasuki fase pertumbuhan produksi dan laba dalam beberapa tahun ke depan.

Melansir dari Trading Economics, kenaikan harga tembaga didorong oleh gangguan pasokan dari Chile, produsen tembaga terbesar dunia. Pengembangan area Andes Norte di tambang El Teniente milik Codelco diperkirakan dapat tertunda hingga dua tahun, sehingga memperketat pasokan di pasar global.

Kondisi tersebut mencerminkan tantangan yang semakin besar di industri pertambangan.

Seiring menipisnya cadangan bijih berkualitas tinggi, banyak perusahaan tambang harus memperluas operasi ke lapisan bawah tanah yang lebih dalam, sehingga meningkatkan risiko geoteknik seperti yang terjadi di El Teniente.

Di sisi lain, analis juga memperingatkan potensi short-term squeeze di London Metal Exchange (LME).

Risiko itu dipicu oleh minimnya persediaan tembaga yang tersedia untuk pengiriman (on-warrant inventories), terus menurunnya stok yang terlihat di China, serta tingginya pembelian dari Amerika Serikat menjelang potensi pengumuman tarif baru.

Data terbaru menunjukkan lebih dari 200.000 ton tembaga masuk ke pelabuhan Amerika Serikat (AS) sepanjang Juli, menjadi arus impor bulanan terbesar dalam lebih dari satu dekade.

Sementara itu, The Wall Street Journal (WSJ) menilai reli harga tembaga tidak hanya dipengaruhi gangguan pasokan, tetapi juga lonjakan permintaan yang berasal dari pembangunan infrastruktur AI.

Logam tersebut menjadi komponen utama untuk pusat data, jaringan listrik, hingga berbagai perangkat elektrifikasi.

Sementara pasokan tertekan akibat gangguan di salah satu tambang tembaga terbesar dunia serta kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk tembaga.

Prospek AMMN

Prospek AMMN dinilai positif seiring peningkatan produksi tambang, percepatan operasional smelter, serta dukungan harga komoditas yang masih kuat.

Analis UOB Kay Hian Benyamin Mikael menilai AMMN berpotensi memasuki siklus puncak laba baru dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, perusahaan tambang tembaga dan emas tersebut berpeluang mencatatkan laba tertinggi sepanjang sejarah pada 2026.

Proyeksi tersebut didorong oleh pemulihan produksi yang signifikan. UOB Kay Hian memperkirakan produksi tembaga dalam konsentrat AMMN melonjak 124 persen secara tahunan pada 2026, sementara produksi emas diperkirakan melesat 565 persen.

Kenaikan produksi ditopang oleh peningkatan kapasitas pengolahan bijih (mill throughput) dan transisi Tambang Batu Hijau ke Fase 8 yang memiliki kadar bijih lebih tinggi.

Atas prospek tersebut, UOB Kay Hian memulai peliputan saham AMMN dengan rekomendasi beli dan target harga Rp7.000 per unit.

Di pasar reguler, pada Kamis (7/8/2026), pukul 09.36 WIB, saham AMMN diperdagangkan di level Rp4.320 per unit, menguat 5,37 persen dalam sepekan dan melesat 25,51 persen dalam sebulan.

Kinerja operasional perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I-2026, AMMN memproduksi 167.792 dry metric ton (dmt) konsentrat tembaga dan 27.670 ton katoda tembaga.

Produksi konsentrat tembaga melonjak 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan katoda tembaga mencapai 28.764 ton pada tiga bulan pertama tahun ini.

Hingga akhir Maret 2026, perusahaan juga telah mengekspor 181.366 dmt konsentrat tembaga dari total kuota ekspor 480.000 dmt yang diperoleh pada Oktober lalu.

Meski demikian, AMMN memperkirakan tidak menggunakan seluruh kuota ekspor tersebut yang berlaku hingga April 2026. Sebagian volume konsentrat diproyeksikan dialihkan untuk mendukung proses peningkatan kapasitas smelter domestik.

Perseroan menyatakan pengujian smelter tembaga dan fasilitas pemurnian logam mulia masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada Juli 2026.

Untuk tahun ini, AMMN menargetkan produksi konsentrat sebesar 900.000 dmt, termasuk sekitar 220.000 ton tembaga.

Di sisi lain, Maybank Sekuritas Indonesia melihat sejumlah tantangan yang dapat membatasi pertumbuhan laba perusahaan.

Risiko tersebut antara lain berasal dari proses peningkatan kapasitas smelter yang berpotensi lebih lambat dari perkiraan serta kemungkinan harga jual rata-rata emas yang lebih rendah.

Maybank juga menyoroti penghapusan saham AMMN dari indeks standar global MSCI yang berpotensi memengaruhi arus dana investor institusi.

Karena faktor-faktor tersebut, Maybank memangkas proyeksi laba bersih AMMN masing-masing sebesar 28,4 persen untuk 2026, 27,5 persen untuk 2027, dan 25 persen untuk 2028.

Meski menurunkan target harga saham menjadi Rp5.500 dari sebelumnya Rp11.000 per unit, Maybank tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk AMMN.

Sementara, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli AMMN dengan target harga Rp9.000 per saham.

Prospek perseroan dinilai semakin menarik seiring meningkatnya permintaan tembaga yang didorong ekspansi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan pembangunan infrastruktur kelistrikan global.

Dalam risetnya pada 7 Agustus 2026, Sucor menyebut AMMN merupakan emiten yang paling diuntungkan untuk menangkap potensi AI-driven copper supercycle karena berstatus sebagai produsen tembaga tercatat terbesar di Indonesia.

Lonjakan belanja modal (capital expenditure/capex) perusahaan teknologi besar untuk membangun pusat data AI, jaringan transmisi listrik, serta interkoneksi bertegangan tinggi diperkirakan meningkatkan konsumsi tembaga secara signifikan.

Satu kompleks pusat data AI berskala besar bahkan membutuhkan kandungan tembaga beberapa kali lebih tinggi dibandingkan pusat data konvensional.

Di sisi operasional, proyek Phase 8 Batu Hijau diproyeksikan meningkatkan produksi tembaga AMMN hingga 113 persen secara tahunan pada 2026.

Peningkatan produksi tersebut dinilai terjadi pada saat permintaan tembaga global mulai terdorong oleh ekspansi AI, sehingga memberikan potensi keuntungan baik dari sisi volume produksi maupun harga komoditas.

Selain Batu Hijau, Sucor juga menilai proyek Elang akan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya bagi AMMN. Deposit yang berlokasi sekitar 54 kilometer dari tambang Batu Hijau itu merupakan salah satu sistem tembaga dan emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan.

Elang diperkirakan memiliki cadangan dan sumber daya sekitar 25 miliar pon tembaga serta 35,1 juta ons emas, dengan potensi nilai penjualan di dalam tanah (in-ground sales value) mencapai sekitar USD270 miliar berdasarkan harga komoditas saat ini.

Sucor menilai proyek Elang menggunakan pendekatan enterprise value (EV) terhadap cadangan (EV-to-reserves) dengan acuan nilai tembaga ekuivalen sebesar USD1,9 per pon.

Proyek tersebut dijadwalkan mulai beroperasi pada 2031 dan diperkirakan memperpanjang pertumbuhan produksi AMMN hingga dekade berikutnya, ketika permintaan tembaga dari pengembangan AI dan jaringan listrik diperkirakan masih terus meningkat.

Meski menurunkan target harga menjadi Rp9.000 per saham akibat kenaikan weighted average cost of capital (WACC) menjadi 10,2 persen, Sucor tetap mempertahankan rekomendasi beli.

Dalam valuasinya, tambang Batu Hijau menyumbang sekitar 54 persen dari total nilai perseroan berdasarkan metode discounted cash flow (DCF), sementara proyek Elang dinilai menggunakan metode EV-to-reserves.

Sucor juga menilai valuasi saham AMMN masih menarik karena diperdagangkan pada rasio price-to-earnings (P/E) sekitar 13,5 kali untuk proyeksi 2026 dan 8,6 kali untuk 2027.

Valuasi tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan potensi pemulihan produksi serta kenaikan laba dalam beberapa tahun mendatang. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik