Pastikan Keamanan Investasi, Hashim Ajak Thailand Masuk Pasar Karbon RI
IDXChannel - Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Perubahan Iklim Hashim Djojohadikusumo menyatakan Indonesia aman untuk negara lain berinvestasi.
Hal itu dia ungkapkan dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Kerajaan Thailand Anutin Charnvirakul di Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Hashim memastikan Indonesia konsisten menganut politik luar negeri bebas aktif demi menjaga iklim bisnis yang kondusif.
"Kami menyambut baik perusahaan dari seluruh dunia dan dapat meyakinkan seluruh investor atas keandalan kami. Investasi Anda aman dan akan selamanya aman di Indonesia," kata Hashim dalam acara Indonesia-Thailand Business Forum di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Landasan diplomatik Indonesia akan selalu memberi ruang terbuka bagi kemitraan ekonomi global tanpa diskriminasi. Hal itu, kata Hashim, menjadi mandat dari Presiden Prabowo Subianto yang memegang prinsip menjaga kepercayaan investor di berbagai sektor usaha.
"Presiden Prabowo selalu menyampaikan bahwa kebijakannya melanjutkan prinsip 'seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak' sehingga pemerintah selalu menghormati komitmen investor baik di industri ekstraktif, manufaktur, hingga perbankan," ujar Hashim.
Hashim menjelaskan soal prinsip netralitas selama 75 tahun kedaulatan Indonesia membuat iklim investasi terbuka luas bagi korporasi dari Rusia, China, Amerika Serikat, Eropa, Jepang, hingga Australia. Kepastian hukum ini menjamin Indonesia sebagai tempat yang aman untuk berbisnis dan menghasilkan keuntungan bagi sektor perbankan, barang konsumsi, hingga jasa keuangan.
Selain menjamin keamanan modal, Hashim mengajak industri manufaktur dan korporasi Thailand untuk memanfaatkan pasar karbon domestik. Fasilitas perdagangan karbon ini dibuka luas guna membantu entitas bisnis global memenuhi pemenuhan kredit offset emisi.
"Kami telah memulai pasar karbon sejak 9 Juli agar mereka yang perlu mengompensasi emisi dapat membeli kredit melalui pasar karbon Indonesia, dan hal ini tentu ditawarkan kepada perusahaan serta manufaktur Thailand," tutur Hashim.
Langkah penguatan bursa karbon tersebut didukung oleh pengesahan perundang-undangan iklim domestik serta keikutsertaan aktif Indonesia dalam forum COP31 Konferensi Para Pihak tentang Iklim.
Hashim menambahkan soal kemitraan kedua negara telah teruji oleh berbagai krisis sejarah, mulai dari krisis keuangan 1997 hingga tingginya keterikatan rantai pasok industri seperti pergerakan sektor otomotif. Gejolak harga energi global terkini akibat penutupan Selat Hormuz makin mendorong urgensi kolaborasi bilateral untuk menahan guncangan eksternal.
"Kita berbagi nasib yang sama, mulai dari krisis sejarah hingga dampak penutupan Selat Hormuz pada harga energi dan komoditas, sehingga ada dorongan lebih besar bagi kita untuk berkolaborasi membentengi diri dari guncangan eksternal," tutur Hashim.
(NIA DEVIYANA)









