Saham ADES Bagger, Simak Jeroan Kinerja Semester I-2026 dan Prospeknya

Saham ADES Bagger, Simak Jeroan Kinerja Semester I-2026 dan Prospeknya

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 4 Agustus 2026 - 12:30
share

IDXChannel – Reli saham PT Akasha Wira International Tbk (ADES) menjadi salah satu yang menarik perhatian sepanjang 2026 di tengah pasar yang cenderung turun tajam secara umum.

Meski belakangan terkoreksi setelah masuk papan pemantauan khusus (Full Call Auction/FCA), fundamental perseroan tercatat terus mencetak rekor baru.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), per perdagangan intraday Selasa (4/8/2026), saham ADES diperdagangkan di level Rp30.375 per unit. Secara year to date (YtD), saham ini telah melonjak 96,92 persen, sedangkan dalam setahun terakhir melesat hingga bagger atau 128,39 persen.

ADES bahkan sempat menyentuh rekor tertinggi Rp40.000 per saham pada 28 Juli 2026. Namun, saham tersebut kemudian tertekan setelah BEI memasukkan ADES ke papan pemantauan khusus dengan mekanisme Full Call Auction (FCA) sejak 31 Juli 2026 melalui pemberian notasi 6.

Notasi tersebut diberikan karena perseroan belum memenuhi ketentuan free float sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-A dan I-V, kecuali ketentuan jumlah saham free float paling sedikit 50 juta saham untuk Papan Utama dan Papan Pengembangan, serta kepemilikan publik di atas 5 persen dari jumlah saham tercatat.

Di tengah pergerakan saham yang sangat agresif, analis Mirae Asset Sekuritas Wilbert Arifin dalam riset yang diterbitkan pada 3 Agustus 2026 menilai kenaikan harga saham ADES kini semakin bergantung pada kemampuan perseroan mempertahankan pertumbuhan laba, setelah fase ekspansi valuasi dinilai telah banyak tercermin dalam harga saham.

Kinerja operasional ADES sendiri masih sangat kuat.

Pada kuartal II-2026, perseroan membukukan laba bersih Rp275 miliar, naik 7,5 persen secara kuartalan (quarter-on-quarter/QoQ) dan melonjak 61,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

Pendapatan juga mencetak rekor baru sebesar Rp1,08 triliun, tumbuh 15,2 persen secara QoQ dan 75,8 persen secara YoY.

Dengan demikian, sepanjang semester I-2026 ADES mengantongi laba bersih Rp530 miliar atau naik 67,5 persen YoY, sementara pendapatan mencapai Rp2,02 triliun, meningkat 70,9 persen dibandingkan semester I-2025.

Baik laba maupun pendapatan berhasil melampaui capaian kuartal I-2026 yang sebelumnya juga telah menjadi rekor tertinggi perseroan.

Wilbert menilai pertumbuhan tersebut berlangsung secara merata di seluruh segmen bisnis maupun wilayah pemasaran.

Segmen makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan dengan penjualan mencapai Rp576 miliar pada kuartal II-2026, naik 18,8 persen secara QoQ dan 95,5 persen secara YoY. Pertumbuhan didorong oleh penjualan produk makanan ringan yang tetap kuat serta peningkatan produksi air minum galon NPL.

Sementara itu, segmen kosmetik membukukan pendapatan Rp509 miliar atau tumbuh 11,3 persen secara kuartalan dan 57,7 persen secara tahunan, didukung berlanjutnya ekspansi merek Barber Daily.

Berdasarkan hasil pengecekan kanal distribusi (channel check), Mirae Asset menilai lonjakan penjualan bukan disebabkan percepatan permintaan (pull forward), melainkan benar-benar berasal dari peningkatan kapasitas produksi.

Pabrik Wanaherang disebut telah meningkatkan kapasitas tangki pencampuran sekitar 50 persen, sementara operasional produksi kini berlangsung selama tujuh hari dalam sepekan.

Secara geografis, pertumbuhan penjualan di luar Pulau Jawa menjadi yang paling tinggi. Pendapatan dari wilayah tersebut meningkat 16,2 persen secara QoQ dan melonjak 123 persen secara YoY menjadi Rp364 miliar.

Kontribusinya terhadap total pendapatan juga naik menjadi 33,6 persen dari sebelumnya 26,4 persen pada kuartal II-2025.

Meski demikian, profitabilitas mulai menghadapi tekanan.

Margin laba kotor turun menjadi 48,6 persen, turun 3,3 poin persentase dibanding kuartal sebelumnya dan 4,2 poin persentase secara tahunan. Ini menjadi kali pertama margin bruto berada di bawah level 50 persen sejak kuartal III-2024.

Menurut Wilbert, penurunan margin dipicu oleh meningkatnya kontribusi bisnis makanan dan minuman yang memiliki margin lebih rendah, pelemahan margin di kedua segmen usaha, serta kenaikan biaya bahan baku berbasis minyak dan biaya kemasan.

Di sisi lain, margin laba operasional (EBIT) masih mampu bertahan di level 30,8 persen berkat penurunan tajam beban administrasi dan umum sekitar 30 persen secara tahunan.

Namun, Mirae Asset mengingatkan efisiensi tersebut kemungkinan sulit dipertahankan dalam jangka panjang.

Selain kinerja keuangan, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Juni 2026 juga membawa sejumlah perkembangan strategis.

Perseroan mengonfirmasi fasilitas produksi baru di Cikande telah memasuki tahap trial production untuk mendukung kapasitas bisnis makanan dan minuman, termasuk lini produksi gummy yang sebelumnya dialihdayakan (outsourced).

RUPST juga menyetujui penyegaran manajemen dengan mengangkat Fanny Soegiarto sebagai Presiden Direktur serta menunjuk Hagi Yufantra sebagai direktur baru.

Hagi merupakan bagian dari tim internal sejak 2016 dan dinilai berperan penting dalam kesuksesan strategi pemasaran ADES.

Langkah ini dinilai membantu mengurangi kekhawatiran pasar terkait isu regenerasi kepemimpinan setelah presiden direktur sebelumnya mengundurkan diri.

Meski prospek pertumbuhan masih positif, Mirae Asset menilai ruang kenaikan valuasi saham ADES kini semakin terbatas.

Setelah sempat melonjak lebih dari 100 persen sejak awal tahun, valuasi saham diperdagangkan pada rasio price to earnings (P/E) trailing 12 bulan sebesar 23 kali, lebih tinggi dibanding rata-rata emiten sejenis yang berada di kisaran 13,8 kali.

Walaupun rasio PEG sebesar 0,3 kali dan EV/EBIT 8,3 kali masih dinilai menarik jika mempertimbangkan pertumbuhan laba, Wilbert menegaskan bahwa kinerja laba akan menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan saham ke depan.

Risiko yang perlu dicermati antara lain kenaikan biaya bahan baku, keberlanjutan efisiensi biaya operasional, serta likuiditas perdagangan saham yang relatif tipis.

Catatan saja, meski kapitalisasi pasar ADES telah mencapai sekitar Rp17,82 triliun, likuiditas perdagangan sahamnya masih relatif tipis.

Berdasarkan data perdagangan BEI, nilai transaksi harian saham ADES dalam setidaknya setahun terakhir umumnya hanya berada di kisaran Rp2 miliar hingga Rp3 miliar, dengan lonjakan sesekali ke level Rp6-Rp10 miliar ketika terdapat katalis.

Dibandingkan ukuran kapitalisasi pasarnya, aktivitas perdagangan tersebut tergolong rendah, sehingga pergerakan harga saham relatif lebih sensitif terhadap transaksi dalam jumlah besar. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik