Saham Produsen Chip CXMT Meroket 465 Persen usai IPO di Bursa Shanghai
IDXChannel - Saham CXMT, produsen chip memori terbesar di China, melonjak setelah mulai diperdagangkan di Shanghai.
Dilansir dari AP pada Senin (27/7/2026), ini merupakan salah satu penawaran saham perdana (IPO) terbesar di China daratan.
Saham CXMT melonjak sekitar 460 persen pada perdagangan hari ini. Produsen chip memori tersebut menjadi perusahaan paling berharga yang terdaftar di bursa China daratan, dengan kapitalisasi pasar sekitar 3,3 triliun yuan (Rp8.700 triliun).
Namun, nilai pasar itu masih lebih kecil daripada pesaingnya dari Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS) seperti Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology.
CXMT termasuk di antara produsen chip yang memperoleh keuntungan besar dari booming kecerdasan buatan (AI), yang meningkatkan permintaan akan memori.
Didirikan pada 2016 di wilayah Hefei, CXMT adalah salah satu produsen chip memori DRAM (dynamic random access) terbesar di dunia, sejenis semikonduktor yang digunakan dalam berbagai perangkat, mulai dari server AI hingga mobil dan elektronik konsumen seperti ponsel pintar dan komputer pribadi.
Pendapatan perusahaan melonjak menjadi 50,8 miliar yuan dalam tiga bulan pertama tahun 2026, peningkatan lebih dari 700 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan penggunaan AI telah menyebabkan kekurangan chip memori global, yang mendorong kenaikan harga untuk beberapa komputer dan ponsel pintar.
Menurut Counterpoint Research, sebuah perusahaan riset teknologi, CXMT adalah produsen chip memori DRAM terbesar keempat di dunia pada 2025 berdasarkan pengiriman, dengan pangsa pasar sekitar delapan persen dari pasar global. Samsung Electronics menyumbang 36 persen, SK Hynix 29 persen, dan Micron sekitar 24 persen.
Dalam tiga bulan pertama tahun ini, CXMT menyumbang sekitar sembilan persen dari pengiriman global. Pada
2028, pangsa pasarnya diperkirakan oleh Counterpoint Research akan mencapai sekitar 11 persen. Namun, perusahaan riset tersebut memperkirakan CXMT kemungkinan akan membutuhkan setidaknya 15 persen pangsa pasar global agar kompetitif dalam jangka panjang. (Wahyu Dwi Anggoro)










