Tren Surplus Dagang Terhenti, Pemerintah Didorong Genjot Diversifikasi Ekspor

Tren Surplus Dagang Terhenti, Pemerintah Didorong Genjot Diversifikasi Ekspor

Terkini | idxchannel | Minggu, 19 Juli 2026 - 14:14
share

IDXChannel - Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD1,6 miliar pada Mei 2026, menandai berakhirnya tren surplus beruntun yang telah bertahan selama 72 bulan

Pada Mei, nilai impor tercatat sebesar USD24,8 miliar melampaui nilai ekspor yang berada di angka USD23,2 miliar.

Kepala Riset NEXT Indonesia Center, Ade Holis, menilai bahwa defisit ini bukan sekadar anomali bulanan, melainkan indikasi mulai melemahnya sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang utama ekspor nasional.

"Berakhirnya surplus perdagangan setelah enam tahun memang menjadi perhatian, tetapi yang lebih penting adalah membaca penyebabnya. Ketika komoditas utama seperti sawit, besi baja, hingga beberapa produk manufaktur mulai melemah secara bersamaan, itu menunjukkan mesin ekspor Indonesia sedang kehilangan tenaga. Jika tidak segera diperkuat, ya ruang surplus perdagangan kita jelas akan semakin menyempit," ungkap Ade Holis di Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa secara kumulatif periode Januari-Mei 2026, neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus sebesar USD4 miliar. Nilai ekspor mencapai USD115,4 miliar atau naik 3,02 persen secara tahunan, namun angka ini tidak mampu mengimbangi lonjakan impor yang tumbuh 15,24 persen menjadi USD111,3 miliar, sehingga bantalan surplus perdagangan semakin menipis.

Ade menambahkan, penurunan ekspor pada Mei 2026 sebesar 8,30 persen dibanding bulan sebelumnya disebabkan oleh pelemahan komoditas unggulan seperti minyak sawit, besi dan baja, mesin elektrik, tembaga, hingga produk kimia.

“Struktur ekspor Indonesia ini masih sangat terkonsentrasi, bahkan selama periode 2021-2025, sekitar 65,98 persen ekspor nasional hanya ditopang oleh 10 kelompok komoditas, seperti bahan bakar mineral yang menjadi kontributor terbesar, kemudian minyak sawit dan turunannya, besi dan baja, mesin elektrik, serta kendaraan bermotor,” paparnya.

Ketergantungan pada sejumlah komoditas tersebut membuat kinerja perdagangan Indonesia menjadi sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global. Oleh karena itu, NEXT Indonesia Center menekankan pentingnya diversifikasi ekspor yang bernilai tambah tinggi.

"Memperbaiki neraca perdagangan bukan sekadar mengembalikan surplus bulanan. Hal yang lebih penting adalah membangun struktur ekspor yang lebih beragam, bernilai tambah tinggi, dan mampu bertahan menghadapi gejolak ekonomi global. Dengan fondasi seperti itu, ekspor bersih akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang," tutur Ade.

Pihaknya menyarankan agar pemerintah melakukan penguatan sektor ekspor melalui hilirisasi sawit, transisi energi yang realistis, serta mendorong industri manufaktur dan elektronik sebagai mesin pertumbuhan baru guna menjaga resiliensi ekonomi nasional di masa depan. (Wahyu Dwi Anggoro)

Topik Menarik