Musim Laporan Keuangan Uji Wall Street Pekan Depan, Investor Nantikan Kinerja Alphabet-Intel

Musim Laporan Keuangan Uji Wall Street Pekan Depan, Investor Nantikan Kinerja Alphabet-Intel

Ekonomi | idxchannel | Sabtu, 18 Juli 2026 - 17:10
share

IDXChannel - Pekan depan cukup krusial bagi Wall Street di mana musim laporan keuangan perusahaan AS semakin ramai dan berpotensi memengaruhi sentimen pasar.

Indeks S&P 500 ditutup melemah pada Jumat dan mencatat penurunan mingguan setelah terseret aksi jual tajam pada saham-saham semikonduktor yang sebelumnya mencatat reli besar. Meski begitu, indeks acuan tersebut masih menguat sekitar 9 persen sepanjang 2026 dan berada sekitar 2 persen di bawah rekor tertinggi awal Juni.

Meningkatnya ekspektasi terhadap pertumbuhan laba perusahaan tahun ini menjadi fondasi utama optimisme investor terhadap pasar saham.

Kini, investor berharap musim laporan keuangan kuartal II yang baru saja dimulai mampu menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan laba perusahaan masih tetap kuat. Berdasarkan data LSEG IBES, laba perusahaan dalam indeks S&P 500 diproyeksikan melonjak 26 persen pada kuartal II.

“Berbagai berita utama terus memicu kecemasan dan membuat investor bertanya-tanya mengapa pasar masih mampu mencetak rekor tertinggi baru. Alasannya adalah karena fundamental ekonomi tetap tangguh dan kinerja laba perusahaan terus luar biasa,” kata Chief Investment Strategist di State Street Investment Management, Michael Arone, dilansir Reuters, Sabtu (18/7/2026).

Laporan keuangan Alphabet yang akan dirilis pada Rabu diperkirakan menjadi pusat perhatian Wall Street.

Induk Google itu merupakan perusahaan terbesar ketiga di AS berdasarkan kapitalisasi pasar, senilai sekitar USD4,2 triliun, sekaligus salah satu anggota kelompok saham “Magnificent Seven” yang menjadi motor utama kenaikan pasar saham AS selama hampir empat tahun terakhir.

Alphabet juga merupakan salah satu hyperscaler AI, yang menggelontorkan miliaran dolar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI. Belanja modal untuk AI tersebut menjadi pendorong utama reli pasar tahun ini, terutama bagi saham-saham semikonduktor dan perusahaan lain yang diuntungkan dari investasi besar-besaran tersebut.

Menurut Presiden sekaligus Chief Investment Officer Hennion & Walsh Asset Management, Kevin Mahn, apabila Alphabet mengumumkan pengurangan proyeksi belanja AI, dampaknya bisa meluas.

“Jika Alphabet mengumumkan adanya pengurangan belanja AI dibandingkan proyeksi sebelumnya, efeknya bisa menjalar ke seluruh ekosistem AI,” ujarnya.

Laporan keuangan Intel dan Texas Instruments juga dinilai sangat penting mengingat reli luar biasa saham-saham chip sepanjang tahun ini.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir reli tersebut mulai kehilangan tenaga. Philadelphia SE Semiconductor Index (SOX) ditutup turun lebih dari 20 persen dari rekor tertinggi akhir Juni, yang secara teknikal menandakan indeks tersebut telah memasuki bear market.

Meski demikian, indeks SOX masih menguat lebih dari 60 persen sepanjang 2026. Saham Intel telah melonjak lebih dari 160 persen, sementara Texas Instruments naik sekitar 60 persen.

Respons pasar yang cenderung datar terhadap laporan keuangan kuat dari Samsung Electronics dan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC) menunjukkan bahwa ekspektasi investor terhadap industri semikonduktor saat ini sudah sangat tinggi.

Saham-saham chip juga bergerak sangat fluktuatif karena investor mulai mempertanyakan apakah reli sektor tersebut sudah terlalu jauh. Mengingat bobot sektor semikonduktor yang sangat besar dalam indeks saham utama, pergerakan saham chip memiliki pengaruh besar terhadap arah pasar secara keseluruhan.

Selain itu, menurut Arone, produk investasi dengan leverage yang terkait sektor semikonduktor turut memperbesar pergerakan harga, baik saat naik maupun turun.

Tesla milik Elon Musk yang juga termasuk dalam kelompok Magnificent Seven juga dijadwalkan merilis laporan keuangan pada pekan depan.

Sejumlah perusahaan besar lain yang juga akan melaporkan kinerja keuangan antara lain American Express, Philip Morris International, dan kontraktor pertahanan RTX. Secara keseluruhan, lebih dari 80 perusahaan anggota S&P 500 dijadwalkan merilis laporan keuangan.

Musim laporan keuangan telah diawali oleh bank-bank besar AS, yang membukukan kenaikan laba berkat meningkatnya pendapatan dari jasa penasihat merger dan akuisisi (M&A) serta lonjakan pendapatan perdagangan (trading).

Di sisi lain, Wall Street masih mewaspadai perkembangan konflik di Timur Tengah setelah meningkatnya eskalasi perang antara Amerika Serikat dan Iran yang telah berlangsung hampir lima bulan.

Banyak investor memperkirakan konflik tersebut tidak akan berlangsung lama. Namun, mereka tetap khawatir ketegangan yang kembali meningkat dapat mendorong harga energi naik hingga mendekati level saat perang pertama kali pecah, sehingga memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi.

Hal itu menjadi perhatian khusus menjelang rapat Federal Reserve pada akhir Juli.

Berdasarkan harga kontrak berjangka Fed funds futures, pasar memperkirakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan guna menurunkan inflasi yang masih berada di atas target tahunan 2 persen.

Meski demikian, data inflasi konsumen (CPI) dan produsen (PPI) AS yang dirilis pekan ini menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada rapat bulan ini.

“Data makroekonomi menggambarkan perekonomian yang tetap stabil disertai adanya perbaikan tekanan inflasi,” kata Chief Investment Officer North Star Investment Managemen, 
Eric Kuby.

(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik