Maskapai Wajib Pakai Bioavtur 1 Persen di 2027, Harga Tiket Bakal Naik?
IDXChannel - Pemerintah menyusun roadmap penggunaan minyak nabati yang dicampur dengan avtur sebagai bahan bakar pesawat, atau sustainable aviation fuel (SAF). Targetnya bioavtur tersebut mulai digunakan mulai 2027.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan, Sokhib Al Rokhman mengatakan roadmap penggunaan SAF pada 2027 itu menargetkan penggunaan avtur campuran nabati 1 persen. Secara bertahap, penggunaan bahan bakar ini bakal digunakan khususnya untuk penerbangan internasional.
"Jadi SAF itu memang bertahap dan kita sudah mencanangkan itu di 2027 harapannya itu adalah penerapan Sustainable Aviation Fuel 1 persen blended dengan avtur yang ada. Tapi kami tergantung dari Pertamina, bagaimana Pertamina supply-nya," ujarnya dalam Rapat Umum Anggota (RUA) INACA Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (8/7/2026).
Sokhib menilai, secara teknis mesin pesawat yang ada saat ini cukup kompatibel untuk menggunakan bahan bakar SAF 1 persen. Namun tantangan berikutnya adalah memastikan suplai bahan bakar, dalam hal ini PT Pertamina, mampu tersedia memenuhi permintaan.
Dia mengatakan, SAF 1 persen sebelumnya telah berhasil diuji coba di maskapai Pelita Air untuk rute domestik. Hasil uji coba tersebut akhirnya membawa kesimpulan untuk diterapkan di seluruh maskapai, dengan kadar 1 persen di 2027. Rencananya SAF akan disediakan di dua Bandara Internasional, yaitu Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang Banten, dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Maskapai Penerbangan Nasional Indonesia (INACA), Denon Prawiraatmadja menambahkan, tantangan utama penerapan bahan bakar SAF bukan terletak pada persoalan teknis seperti mesin. Akan tetapi, menyangkut harga yang lebih mahal ketimbang avtur, sehingga berpotensi menambah beban para pelaku industri untuk memenuhi konsumsi bahan bakar.
"Kalau dari sisi operator, mungkin kita concern masalah pricing (harga), karena tentu blended aviation fuel ini harus affordable dari sisi operasional cost maskapai, khususnya penerbangan berjadwal. Wah pasti lebih mahal (dibanding avtur), tapi tentu kita lihat kesesuaiannya dengan affordability-nya," kata Denon.
Meski demikian, Denon mengakui bahwa nantinya penggunaan SAF untuk rute penerbangan internasional bakal memangkas biaya pajak karbon yang diterapkan di sejumlah wilayah udara luar negeri. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan nilai kompetitif maskapai di dalam negeri.
Sementara dari sisi rantai pasok, Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan SAF adalah bahan bakar pesawat yang diolah dari bahan baku nabati dan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).
Saat ini perseroan tengah memperluas kilang biorefinery Cilacap untuk memproduksi SAF dan hydrotreated vegetable oil (HVO) dari minyak goreng bekas dan bahan baku berbasis limbah berkelanjutan lainnya. Fasilitas ini beroperasi dengan kapasitas hingga 3.000-6.000 barel per hari dan mendukung target transisi energi menuju Net Zero Emission.
"Meningkatkan skala SAF memerlukan pengembangan bahan baku, teknologi canggih, sertifikasi, integrasi rantai pasok, partisipasi maskapai penerbangan, regulasi yang mendukung, investasi, dan kemitraan yang terpercaya. Itulah mengapa kemitraan kami dengan Boeing sangatlah penting," kata Simon.
(NIA DEVIYANA)









