Prospek Sektor Logam, Pasokan Mengetat dan Kebijakan Royalti Jadi Perhatian

Prospek Sektor Logam, Pasokan Mengetat dan Kebijakan Royalti Jadi Perhatian

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 23 Juni 2026 - 06:54
share

IDXChannel - Sektor logam dan pertambangan dinilai masih memiliki prospek positif seiring penguatan harga nikel dan tembaga yang didukung oleh keterbatasan pasokan global.

Namun, pelaku industri perlu mencermati ketidakpastian terkait kebijakan royalti mineral yang tengah dikaji pemerintah.

Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati dalam risetnya menyebutkan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunda rencana kenaikan royalti mineral setelah mendapat respons negatif dari pelaku industri.

Pemerintah kini melakukan kajian ulang untuk menyeimbangkan upaya optimalisasi penerimaan negara dengan menjaga profitabilitas, investasi, dan daya saing industri pertambangan.

“Ketidakpastian mengenai penerapan royalti di masa depan masih menjadi perhatian utama bagi perusahaan tambang,” tulis Vinna dalam risetnya.

Di sisi lain, harga nikel menunjukkan penguatan sepanjang 2026.

Kondisi ini didorong oleh keputusan Indonesia memangkas kuota produksi bijih nikel sekitar 17 persen secara tahunan serta gangguan pasokan asam sulfat, salah satu bahan baku penting dalam proses pengolahan nikel menggunakan teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL).

Kenaikan biaya operasional akibat keterbatasan bahan baku tersebut membuat sejumlah produsen HPAL mengurangi produksinya.

Situasi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan nikel kelas baterai (battery-grade nickel) yang semakin ketat dan turut menopang kenaikan harga nikel global.

Selain nikel, harga tembaga juga bergerak naik setelah Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif 50 persen terhadap produk tembaga setengah jadi.

Menurut Vinna, prospek harga tembaga masih positif hingga 2032 karena pertumbuhan permintaan dari elektrifikasi, transisi energi, dan pembangunan infrastruktur diperkirakan melampaui pertumbuhan pasokan.

Pemerintah juga tengah mengusulkan kenaikan tarif royalti untuk produk konsentrat tembaga dan katoda.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan penerimaan negara dari sektor mineral.

Sementara itu, komoditas timah berpotensi menghadapi tekanan biaya lebih besar apabila skema royalti progresif yang diusulkan ESDM diterapkan.

Dalam skema tersebut, tarif royalti maksimum timah akan meningkat dari 10 persen menjadi 20 persen ketika Harga Mineral Acuan (HMA) melampaui USD50.000 per ton.

Dengan rata-rata harga timah yang telah berada di atas ambang tersebut pada awal 2026, produsen berpotensi menghadapi beban royalti yang lebih tinggi.

Meski terdapat risiko dari sisi regulasi, Phintraco Sekuritas tetap melihat sektor logam dan pertambangan secara positif.

Penguatan harga nikel dan tembaga, didukung keterbatasan pasokan serta tren permintaan jangka panjang dari industri energi bersih, menjadi faktor utama yang menopang prospek sektor ini.

Namun, investor tetap perlu memperhatikan risiko perubahan kebijakan royalti serta perkembangan geopolitik yang dapat meningkatkan volatilitas harga komoditas. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik