Harga Emas Masih Dibayangi Keperkasaan Dolar AS, Simak Arah Pergerakannya Sepekan
IDXChannel - Harga emas batangan atau logam mulia di pasar domestik diproyeksikan menyentuh kisaran Rp2,55 juta per gram, atau melonjak ke batas atas Rp2,79 juta per gram. Ini tergantung pada pergerakan emas internasional.
Sebagai catatan, pada sesi penutupan perdagangan Jumat (20/6/2026) lalu, harga emas batangan domestik bertengger di level Rp2.668.000 per gram. Di saat yang sama, harga emas di pasar dunia mengunci posisi di level USD4.155 per troy ons.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan instrumen investasi ini masih akan tersandera oleh pekatnya ketidakpastian geopolitik global serta keperkasaan indeks dolar Amerika Serikat (AS).
"Jadi disimpulkan bahwa harga emas dunia dan logam mulia sepekan ke depan adalah harga emas dunia di USD3.859 itu support-nya, resistennya adalah di USD4.465 per troy ons. Kemudian untuk logam mulia sepekan itu adalah Rp2.550.000 dan tertinggi itu Rp2.790.000 rupiah per gram," ujar Ibrahim dalam analisisnya, Minggu (21/6/2026).
Ibrahim membedah skenario pergerakan pasar secara mendalam. Jika emas global melemah, level support pertama ada di USD4.088 per troy ons (emas domestik Rp2.648.000 per gram), dan support kedua di USD3.859 per troy ons (emas domestik Rp2.550.000 per gram).
Sebaliknya, jika menguat, area resistance pertama berada di USD4.243 per troy ons (emas domestik Rp2.688.000 per gram) dan resistance kedua di USD4.465 per troy ons (emas domestik Rp2.790.000 per gram).
Satu faktor utama yang berisiko menekan daya pikat emas adalah proyeksi penguatan indeks dolar AS menuju level 101,70 pada pekan depan. Menguatnya dolar AS secara otomatis membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi para pemegang mata uang lainnya, sehingga mengikis volume permintaan terhadap aset aman (safe haven) ini.
Ibrahim menambahkan, dinamika ini tidak terlepas dari situasi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur yang mengancam jalur logistik energi.
"Ini pun juga membuat satu kecemasan di Eropa Timur yang bisa mengangkat harga minyak, yang bisa menguatkan indeks dollar AS. Sebenarnya bisa menguatkan harga emas dunia, tetapi karena ada penutupan Selat Hormuz dan cadangan minyak di AS tempat pekan ke depan mengalami penurunan, kekosongan, ini yang membuat harga minyak naik sehingga harga emas dunia mengalami koreksi," kata dia.
Kendati dibayangi tekanan koreksi dalam jangka pendek, Ibrahim mengaku tetap menaruh optimisme tinggi terhadap prospek investasi emas dalam jangka panjang. Fondasi utama yang akan menjadi bantalan kuat bagi harga emas adalah masifnya aksi borong yang dilakoni oleh jajaran bank sentral global.
Sepanjang kuartal I-2026, bank-bank sentral di berbagai negara dilaporkan telah menyerap sekitar 244 ton emas sebagai bagian dari strategi mitigasi, lindung nilai, serta gerakan pengurangan ketergantungan terhadap mata uang dolar (dedolarisasi).
Bank Nasional Polandia memimpin sebagai pembeli terbesar dengan koleksi 31 ton, disusul Bank Sentral Uzbekistan 25 ton, Bank Sentral Kazakhstan 13 ton, serta Bank Indonesia yang tidak ketinggalan menambah cadangan emasnya sebanyak 2 ton pada kuartal yang sama. Aktivitas penguatan cadangan ini juga terus dipacu oleh negara dengan kapasitas ekonomi raksasa seperti China.
Riset lembaga investasi global memperkirakan total akumulasi pembelian emas oleh otoritas moneter dunia bisa menembus angka 900 ton sepanjang tahun 2026. Data ini diperkuat oleh hasil survei yang menunjukkan sekitar 45 persen bank sentral dunia berencana terus menambah porsi emas batangan mereka.
"Sehingga ini yang sebenarnya bom waktu, tinggal menunggu saja kapan waktu yang tepat agar harga emas dunia, logam mulia ini kembali meloncat," ujar Ibrahim.
(Dhera Arizona)









