Pasar Masih Bergejolak, Analis Soroti Faktor yang Membayangi IHSG

Pasar Masih Bergejolak, Analis Soroti Faktor yang Membayangi IHSG

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 5 Juni 2026 - 06:50
share

IDXChannel – Pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan berat di tengah ketidakpastian global dan domestik.

Analis Phintraco Sekuritas menilai volatilitas pasar berpotensi berlanjut seiring bertahannya suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), pelemahan rupiah, serta sejumlah sentimen kebijakan di dalam negeri.

Dalam laporan strategi bulanan yang dirilis Rabu (3/6/2026), Phintraco Sekuritas menyebut kondisi ekonomi global sejauh ini masih cukup tangguh meskipun dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan sempat terganggunya aktivitas di Selat Hormuz.

Ketahanan ekonomi global ditopang oleh harga minyak yang relatif stabil, aktivitas ekonomi Amerika Serikat yang tetap kuat, serta membaiknya data sektor manufaktur dan jasa.

Di sisi lain, tekanan inflasi di AS meningkat akibat kenaikan biaya energi, namun pasar tenaga kerja yang masih solid membuat risiko resesi mereda.

"Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer dalam waktu dekat," tulis Phintraco.

Di dalam negeri, ekonomi Indonesia dinilai masih menunjukkan ketahanan pada kuartal I-2026. Konsumsi rumah tangga yang kuat, peningkatan belanja pemerintah, dan pemulihan aktivitas manufaktur menjadi penopang utama pertumbuhan.

Namun, sejumlah tantangan masih membayangi perekonomian domestik. Pelemahan rupiah hingga menyentuh level terendah Rp18.049 per USD per Kamis (4/6/2026), arus keluar modal asing, dan melebarnya defisit neraca pembayaran menjadi sumber tekanan utama.

Di saat yang sama, kenaikan inflasi dan meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,25 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar.

Tekanan tersebut turut tercermin pada pergerakan pasar saham. Phintraco mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah merosot 32,46 persen sepanjang tahun berjalan hingga berada di level 5.8,39,78 pada Kamis (4/6), di kisaran level terendah sejak Mei 2021.

Menurut Phintraco, pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor, mulai dari depresiasi rupiah, kenaikan BI Rate, dampak rebalancing indeks MSCI dan FTSE Russell, hingga ketidakpastian terkait beberapa kebijakan pemerintah.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan mencermati sejumlah agenda penting, antara lain hasil MSCI Market Accessibility Review Indonesia, rebalancing FTSE Russell, implementasi kebijakan ekspor, serta rencana revisi tarif royalti sektor pertambangan.

Meski demikian, Phintraco masih melihat prospek IHSG pada 2026 tetap ditopang oleh potensi pertumbuhan laba emiten.

Untuk strategi investasi, Phintraco merekomendasikan investor mencermati saham-saham di sektor perbankan, minyak dan gas, makanan dan minuman, pertambangan logam, serta semen.

Soal MSCI, indeks global ini dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni dan Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni.

Pasar menunggu keputusan MSCI terkait efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.

Sebelumnya, MSCI menyampaikan sejumlah kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten, serta membuka kemungkinan peninjauan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).

Pada April 2026, MSCI memutuskan memperpanjang masa evaluasi hingga Juni sebelum menetapkan keputusan final.

Untuk strategi investasi, Phintraco merekomendasikan investor mencermati saham-saham di sektor perbankan, minyak dan gas, makanan dan minuman, pertambangan logam, serta semen yang dinilai memiliki prospek menarik di tengah kondisi pasar saat ini. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik