Kepemilikan Asing di Obligasi Indonesia ke Level Terendah Hampir 20 Tahun

Kepemilikan Asing di Obligasi Indonesia ke Level Terendah Hampir 20 Tahun

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 5 Juni 2026 - 09:44
share

IDXChannel – Investor asing terus mengurangi eksposurnya terhadap aset Indonesia.

Data pemerintah menunjukkan porsi kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN) turun menjadi 12,62 persen per 2 Juni 2026, level terendah sejak November 2006, di tengah pelemahan rupiah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek fiskal negara.

Mengutip Reuters, penurunan tersebut menandai perubahan besar dibandingkan beberapa tahun lalu. Pada 2019, investor asing masih menguasai hampir 40 persen dari total obligasi pemerintah Indonesia yang beredar.

Kehati-hatian investor juga terlihat di pasar saham. Kepala Riset Indonesia Macquarie Capital Ari Jahja dalam catatannya menyebut kepemilikan asing di pasar saham Indonesia telah turun secara bertahap ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Di pasar valuta asing, tekanan terhadap rupiah semakin besar. Mata uang Garuda telah melemah sekitar 7,5 persen sejak awal tahun, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang 2026.

Pada Kamis (4/6/2026), rupiah bahkan menembus level psikologis Rp18.000 per USD dan mencetak rekor terendah baru.

Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot ke level terendah dalam lebih dari lima tahun seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi di pasar keuangan. Namun langkah tersebut ikut menggerus cadangan devisa. Pada April 2026, cadangan devisa Indonesia turun USD2 miliar menjadi USD146,2 miliar, level terendah dalam hampir dua tahun.

Kondisi tersebut turut menjadi perhatian lembaga pemeringkat internasional.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Maret lalu, Fitch Ratings menyebut penurunan tajam cadangan devisa akibat arus keluar modal, yang dipicu melemahnya kepercayaan investor atau memburuknya tata kelola, dapat menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu aksi pemeringkatan negatif terhadap Indonesia.

Kepala Riset RHB Sekuritas Indonesia Andrey Wijaya mengatakan investor kini semakin mencermati prospek peringkat kredit Indonesia di tengah meningkatnya komitmen belanja pemerintah.

"Investor semakin fokus pada prospek kredit pemerintah Indonesia. Meskipun pertumbuhan ekonomi masih relatif tangguh, kekhawatiran mulai muncul terkait disiplin fiskal dan meningkatnya komitmen belanja pemerintah," ujar Andrey.

Menurut dia, spekulasi pasar mengenai kemungkinan peninjauan ulang peringkat kredit Indonesia turut memperkuat sikap hati-hati investor dan menambah tekanan terhadap aset-aset domestik. (Aldo Fernando)

Topik Menarik