Outlook Negatif Moody's ke Danantara Tambah Tekanan, IHSG Sempat Turun 5 Persen
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat pada perdagangan Rabu (3/6/2026).
Hingga penutupan sesi I, IHSG sempat turun tajam 5,15 persen dan menembus level psikologis 6.000.
Indeks kemudian memangkas sebagian pelemahannya dan mengakhiri sesi dengan koreksi 4,94 persen ke level 5.899,48, yang merupakan posisi terendah dalam 13 bulan terakhir atau sejak April 2025.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp14,86 triliun dengan volume perdagangan 23,51 miliar saham.
Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 752 saham melemah, hanya 38 saham menguat, dan 169 saham lainnya bergerak stagnan.
Menurut Phintraco Sekuritas, Rabu (3/6/2026), pelemahan tajam tersebut dipicu kombinasi sejumlah sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah keputusan Moody's Ratings yang menetapkan peringkat Baa2 dengan outlook negatif untuk PT Danantara Investment Management (DMI).
Di saat yang sama, nilai tukar rupiah kembali tertekan dan melemah hingga menembus Rp17.926 per USD.
Pelemahan mata uang domestik terjadi seiring penguatan kembali harga minyak dunia yang memunculkan kekhawatiran mengenai potensi pelebaran defisit APBN serta peningkatan tekanan inflasi.
Kenaikan harga minyak dipicu belum tercapainya kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kondisi tersebut mendorong harga minyak kembali menguat setelah sebelumnya sempat terkoreksi, sehingga memicu kecemasan pasar terhadap prospek inflasi ke depan.
Kekhawatiran tersebut semakin mengemuka setelah inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat mencapai 3,08 persen secara tahunan.
Meski masih berada dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5 persen hingga 3,5 persen, pasar menilai risiko inflasi dapat meningkat apabila harga minyak bertahan tinggi dalam periode yang lebih panjang.
Dengan kondisi tersebut, peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dinilai masih terbuka, terutama jika tekanan inflasi dan depresiasi rupiah berlanjut.
Prospek suku bunga yang lebih tinggi, kata Phintraco, cenderung menjadi sentimen negatif bagi pasar saham.
Selain faktor makroekonomi, investor juga mencermati hasil evaluasi MSCI terhadap pasar modal Indonesia yang akan diumumkan pada Juni 2026.
MSCI dijadwalkan merilis Global Market Accessibility Review pada sekitar 18 Juni dan Annual Market Classification Review pada sekitar 23 Juni.
Pasar menunggu keputusan MSCI terkait efektivitas reformasi pasar modal Indonesia.
Sebelumnya, MSCI menyampaikan sejumlah kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham dan likuiditas beberapa emiten, serta membuka kemungkinan peninjauan status Indonesia sebagai pasar berkembang (emerging market).
Pada April 2026, MSCI memutuskan memperpanjang masa evaluasi hingga Juni sebelum menetapkan keputusan final. (Aldo Fernando)










