Harga CPO Menguat Dua Pekan Berturut-turut
IDXChannel - Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut meski ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
Penguatan tersebut terjadi di tengah pergerakan minyak nabati pesaing dan sejumlah sentimen yang masih membayangi prospek permintaan global.
Kontrak berjangka (futures) acuan CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,04 persen menjadi 4.535 ringgit Malaysia per ton. Namun secara mingguan, kontrak tersebut masih membukukan kenaikan 1,09 persen.
Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, seperti dikutip Reuters, perdagangan pada Jumat lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama pergerakan minyak nabati di pasar Dalian dan harga minyak kedelai.
Selain itu, sentimen pasar juga cenderung menguat menjelang libur panjang.
Perdagangan futures minyak sawit akan ditutup pada 1-2 Juni dan kembali dibuka pada 3 Juni.
Dari dalam negeri, pemerintah Indonesia bertemu dengan kelompok petani sawit pada Jumat untuk membahas kekhawatiran atas penurunan tajam harga tandan buah segar (TBS).
Para petani menilai pelemahan harga dipicu ketidakpastian terkait rencana pemerintah menyalurkan seluruh ekspor minyak sawit melalui lembaga negara.
Sementara itu, data Komisi Eropa menunjukkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025-2026 yang dimulai pada Juli mencapai 11,95 juta ton hingga 24 Mei, turun 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor minyak sawit Uni Eropa juga turun 4 persen menjadi 2,55 juta ton.
Meski menguat dalam sepekan, kontrak CPO masih berada di jalur penurunan bulanan kedua berturut-turut akibat lemahnya kinerja ekspor.
Menurut Trading Economics, lembaga survei kargo mencatat ekspor minyak sawit selama periode 1-25 Mei turun antara 14,5 persen hingga 18 persen dibandingkan April.
Penurunan tersebut antara lain disebabkan tidak adanya lonjakan permintaan musiman yang biasanya terjadi saat periode perayaan.
Prospek permintaan dari India, importir minyak sawit terbesar di dunia, juga masih menjadi perhatian pasar. Impor minyak sawit India pada April anjlok 26 persen dan menyentuh level terendah dalam empat bulan.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia diperkirakan mencatat penurunan bulanan yang tajam setelah laporan mengenai perpanjangan sementara gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. (Aldo Fernando)









