Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah

Kerek Suku Bunga, BI Utamakan Stabilitas Ekonomi di Tengah Depresiasi Rupiah

Terkini | idxchannel | Senin, 25 Mei 2026 - 17:04
share

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) menegaskan keputusan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) merupakan langkah yang dipilih bank sentral untuk menjaga stabilitas perekonomian di tengah depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. BI menilai, kenaikan BI Rate penting untuk meredam keluarnya modal (capital outflow) dari dalam negeri.

Deputi Gubernur BI, Destry Damayanti menjelaskan, volatilitas kurs rupiah terjadi di tengah dua arus yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat, ditandai dengan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen hingga Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menembus 123 poin pada April 2026.

Di sisi lain, faktor eksternal menekan ekonomi domestik, bahkan cenderung dominan dalam mendikte pergerakan rupiah. Sejumlah faktor mulai dari eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang mendongkrak inflasi hingga ekspektasi pengetatan moneter dari bank sentral AS, The Federal Reserve membuat greenback kembali perkasa.

“Jadi ini sebenarnya menandakan bahwa fundamental kita masih oke. Kemudian juga kita lihat dari index consumer confidence itu juga mengalami peningkatan,” ujar Destry dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah di Jakarta, Senin (25/5/2026).

Situasi tersebut, kata Destry, semakin menantang karena secara siklikal, permintaan valas pada pertengahan tahun meningkat. Kebutuhan korporasi untuk pembayaran dividen ke luar negeri hingga kebutuhan likuiditas untuk musim haji menjadi pemicu pengetatan pasokan dolar AS di pasar spot.

“Jadi memang ada kebutuhan dolar yang sangat tinggi. Sehingga kembali lagi antara supply dan demand. Saat ini memang demand (dolar AS) sedang tinggi,” ujar Destry.

Merespons ketidakseimbangan pasokan dan permintaan tersebut, bank sentral menilai insentif imbal hasil instrumen rupiah harus ditingkatkan secara agresif. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi daya pikat utama untuk memancing kembalinya aliran modal asing (capital inflow) ke dalam ekosistem keuangan nasional.

“BI mengerek suku bunga karena kita merasa masih kurang (menarik). Jadi ini harus kita dorong dengan menaikkan suku bunga karena kita harus membuat instrumen rupiah kita menjadi menarik lagi, sehingga itu bisa mendorong inflow kembali masuk paling tidak ke pasar keuangan kita dulu,” kata Destry.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 19–20 Mei 2026, BI secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen. Langkah pengetatan ini diikuti dengan kenaikan suku bunga Deposit Facility menjadi 4,25 persen serta suku bunga Lending Facility yang ikut terkerek ke posisi 6,00 persen.

Destry optimistis bauran kebijakan ini ampuh memulihkan tingkat kepercayaan pasar. Di tengah tingginya tingkat imbal hasil (yield) obligasi AS, dan inflasi meningkat di AS yang berdampak pada penguatan dolar AS, BI memilih untuk memprioritaskan stabilitas ketimbang memacu pertumbuhan jangka pendek.

“Jadi kita menghadapi situasi di mana stabilitas itu menjadi penting,” pungkas Destry.

(Rahmat Fiansyah)

Topik Menarik