BI Catat Transaksi Mata Uang Lokal Naik 309 Persen 

BI Catat Transaksi Mata Uang Lokal Naik 309 Persen 

Terkini | idxchannel | Jum'at, 22 Mei 2026 - 13:44
share

IDXChannel - Bank Indonesia (BI) mencatat transaksi Local Currency Transaction (LCT) atau penggunaan mata uang lokal melonjak 309 persen di tengah gejolak dolar AS.

Hingga April 2026, akumulasi nilai transaksi LCT nasional mencapai USD22,61 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya USD7,33 miliar.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia, Ruth A Cussoy Intama menjelaskan, pemanfaatan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dapat mendongkrak efisiensi biaya perdagangan bagi para pelaku usaha antarnegara.

“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” kata Ruth dalam paparannya pada acara Pelatihan Wartawan di Makassar, Jumat (22/5/2026).

Per April 2026, rata-rata bulanan pelaku LCT telah mencapai 5.265 pelaku. Angka ini melonjak tajam jika dibandingkan dengan posisi 2021 yang hanya 497 pelaku, 2022 sebanyak 1.741 pelaku, 2023 sebesar 2.602 pelaku, dan 2024 yang mencapai 5.020 pelaku.

Pada 2025, rata-rata bulanan basis pelaku bahkan sempat mencetak rekor tertinggi hingga menyentuh 9.720 pelaku.

Menurut Ruth, dinamika geopolitik saat ini memaksa banyak negara mempercepat kerja sama bilateral penggunaan mata uang domestik untuk aktivitas perdagangan dan investasi lewat jaringan bank Appointed Cross Currency Dealer (ACCD).

Indonesia berada di barisan terdepan dan tampil agresif dalam mengimplementasikan skema ini, sehingga mulai mendapat pengakuan luas dari negara-negara mitra. Akselerasi ini tercermin nyata dari performa volume transaksi LCT di lapangan.

Ruth menegaskan, diversifikasi penggunaan mata uang ini krusial untuk melindungi aktivitas ekspor-impor dari risiko fluktuasi tajam Dolar AS.

Meski demikian, BI menggarisbawahi bahwa kebijakan ini bukan merupakan bentuk anti-dolar.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” tutur dia.

Sejauh ini, China masih menjadi mitra dagang utama Indonesia yang merajai implementasi LCT dengan kontribusi dominan sebesar 89 persen dari total bauran transaksi.

Posisi berikutnya ditempati oleh Jepang dengan porsi 6 persen, serta Malaysia yang menyumbang sebesar 3 persen.

Bank sentral mencatat, keunggulan utama dari skema LCT adalah terpangkasnya biaya konversi ganda (spread) karena pengusaha tidak perlu lagi menggunakan Dolar AS sebagai mata uang perantara (vehicle currency) dalam perdagangan bilateral.

Di samping itu, LCT terbukti efektif memperdalam pasar keuangan regional serta memperluas partisipasi pelaku pasar di kawasan Asia.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik