Prancis Targetkan Lepas dari Energi Fosil pada 2050, Dimulai dari Batu Bara pada 2030
IDXChannel—Pemerintah Prancis menargetkan untuk berhenti menggunakan energi fosil secara total pada 2050. Rencana ini diumumkan pada Rabu (28/4/2026) dalam sebuah konferensi global di Santa Marta, Kolombia.
Untuk merealisasikan target ini, Prancis meluncurkan peta jalan untuk transisi energi secara bertahap. Negara ini menargetkan berhenti menggunakan batu bara pada 2030, minyak bumi pada 2045, dan gas bumi pada 2050.
Peta jalan ini dianggap berbeda karena tidak mengusulkan komitmen pengurangan emisi gas karbon seperti yang dilakukan negara-negara lain, melainkan langsung memasang target untuk menghentikan penggunaan energi ekstraktif secara bertahap hingga 2050.
Target-target penghentian tiga jenis energi ekstraktif itu disusun dalam satu peta jalan yang sama dengan rencana yang komprehensif. Melansir CNA (29/4/2026), perwakilan Prancis dalam konferensi tersebut, Benoît Faraco, mengatakan peta jalan ini menyasar seluruh sektor ekonomi.
Artinya, penghentian penggunaan bahan bakar ekstraktif ini akan diterapkan pada seluruh sektor ekonomi di Prancis secara bertahap, sesuai target road map yang telah dirancang hingga 2050.
“Roadmap ini original, mungkin kami adalah negara pertama yang memiliki target deadline yang jelas untuk berhenti menggunakan energi fosil secara keseluruhan,” kata Faraco.
Saat ini, Prancis masih menggunakan energi dari hidrokarbon dalam jumlah kecil, berkat energi dari generator nuklir. Nantinya penghentian energi fosil juga berlaku untuk sektor kelistrikan.
Sebagai pengingat, peta jalan penghentian penggunaan energi fosil berbeda dengan komitmen ‘net zero’ yang kerap diusulkan oleh negara-negara lain. Analis Energi Leo Roberts mengatakan Prancis memiliki target yang jelas.
“Peta jalan Prancis dideskripsikan sebagai dokumen yang menjabarkan rencana untuk transisi seluruh perekonomian dari bahan bakar fosil. Jadi dalam hal ini, road map Prancis ini adalah yang pertama di dunia,” tuturnya.
Lebih lanjut, Faraco mengatakan negaranya memutuskan untuk mendorong dan meluncurkan road map-nya sendiri setelah proposal road map energi fosil global ditolak pada COP30 Climate Summit pada November tahun lalu.
Brasil yang saat itu memimpin negosiasi, alih-alih menerima road map global dari Prancis, justru mendorong perancangan road map secara sukarela dan meminta negara-negara yang berkenan untuk menyerahkan road map-nya.
Konferensi Santa Marta di Kolombia adalah pertemuan pembahasan iklim yang digelar di luar jadwal UN dan diadakan oleh Kolombia dan Belanda. Pertemuan ini dihadiri oleh 60 negara dari Uni Eropa dan produsen energi fosil dari Kanada, Norwegia, Angola, Nigeria, hingga Tuvalu.
Peluncuran peta jalan ini sekaligus meresmikan target eksisting Prancis untuk mengurangi polusi rumah kaca sebesar 5 persen per tahun pada periode 2024–2028 dengan target netral karbon pada 2050.
(Nadya Kurnia)










