Bursa Asia Terkoreksi, Pasar Waspadai Konflik Timur Tengah dan Arah Suku Bunga
IDXChannel — Bursa saham Asia terkoreksi usai menyentuh level tertinggi sepanjang masa pada Selasa (28/4/2026), di tengah kehati-hatian investor mencermati konflik geopolitik di Timur Tengah serta menanti rilis kinerja emiten besar dan keputusan bank sentral global.
Ketidakpastian masih membayangi setelah Amerika Serikat (AS) meninjau proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik.
Namun, Presiden Donald Trump dilaporkan belum puas karena proposal tersebut tidak mencakup isu program nuklir Iran.
Kondisi ini membuat konflik yang telah berlangsung sekitar dua bulan masih menemui jalan buntu.
Dampaknya, distribusi energi dan komoditas lain melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global, masih terganggu, menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan.
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang yang disusun oleh MSCI tercatat turun tipis 0,12 persen, namun tetap berada di sekitar level rekor yang dicapai sehari sebelumnya.
Sepanjang April, indeks ini berpeluang menguat sekitar 17 persen setelah sempat terkoreksi 13,5 persen pada Maret.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 0,5 persen usai menyentuh rekor tertinggi pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, indeks S&P 500 di Wall Street mencatat kenaikan tipis dan berada di jalur penguatan sekitar 10 persen sepanjang bulan ini.
Fokus pasar kini tertuju pada rangkaian keputusan kebijakan moneter dari sejumlah bank sentral utama, yakni Bank of Japan (BOJ), Federal Reserve (The Fed), Bank of England (BOE), dan European Central Bank (ECB).
Keempatnya diperkirakan masih menahan suku bunga, namun pernyataan para pejabatnya terkait dampak konflik terhadap inflasi akan menjadi perhatian utama.
Khusus di Jepang, pasar memperkirakan Bank of Japan menahan suku bunga dalam pertemuan kali ini, namun membuka peluang pengetatan ke depan.
Investor akan mencermati laporan prospek kuartalan serta pernyataan Gubernur Kazuo Ueda untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan selanjutnya.
Di pasar valuta asing, yen Jepang masih berada di kisaran 159,33 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang dikhawatirkan memicu intervensi pemerintah Jepang.
Kepala Ekonom Asia HSBC, Fred Neumann, mengatakan Bank of Japan kemungkinan akan tetap sensitif terhadap volatilitas pasar.
“Proyeksi dasar kami masih satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Juli. Namun, peluang kenaikan pada Juni bisa meningkat jika Selat Hormuz masih tertutup hingga pertengahan Mei,” ujarnya, dikutip Reuters. (Aldo Fernando)










