Peluang Cuan di Saham Sawit (CPO) di Tengah Momentum B50

Peluang Cuan di Saham Sawit (CPO) di Tengah Momentum B50

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 28 April 2026 - 07:34
share

IDXChannel – Momentum kebijakan biodiesel B50 dinilai membuka peluang cuan di sektor minyak sawit mentah (CPO) pada 2026.

Sejumlah analis menilai, meski kinerja emiten sawit sempat tertekan di awal tahun, prospek harga yang tetap kuat dan potensi pengetatan pasokan global akan menjadi katalis penguatan sektor ke depan.

Riset analis Indo Premier Sekuritas, Halima Yefany dan Aurelia Barus, yang terbit pada 24 April 2026 mencatat harga CPO pada kuartal I-2026 (1Q26) rata-rata mencapai 4.200 ringgit Malaysia per ton atau sekitar Rp14,9 juta per ton.

Angka ini relatif stabil secara tahunan dan naik 4 persen secara kuartalan, atau telah mencapai sekitar 90 persen dari target tahun penuh 2026.

Kendati harga menguat, volume penjualan justru berada di titik musiman terendah. Total volume penjualan diperkirakan turun 4 persen secara kuartalan menjadi 934 juta ton, meski masih tumbuh 3 persen secara tahunan.

Penurunan ini dinilai sejalan dengan pola musiman, dengan kontribusi baru sekitar 23 persen dari target tahunan.

Di antara emiten, hanya PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) yang diproyeksikan mampu mencatat pertumbuhan volume secara kuartalan, sejalan dengan panduan perusahaan.

Sebaliknya, emiten lain diperkirakan mengalami penurunan volume cukup dalam, berkisar 16 persen hingga 26 persen, dengan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mencatat penurunan terdalam akibat basis tinggi pada kuartal sebelumnya.

Dari sisi kinerja, laba bersih inti sektor diperkirakan turun 35 persen secara kuartalan menjadi Rp1,9 triliun pada 1Q26, terutama dipicu oleh lemahnya volume penjualan dan kenaikan biaya pupuk.

Meski demikian, capaian ini masih dinilai sejalan dengan proyeksi analis dan berada di atas konsensus pasar.

Secara rinci, LSIP diperkirakan mencatat penurunan laba terdalam hingga 51 persen secara kuartalan menjadi Rp310 miliar.

Sementara itu, laba PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) diproyeksikan turun sekitar 35 persen secara kuartalan, seiring peningkatan penggunaan pupuk.

AALI diperkirakan mencatat penurunan paling moderat, sekitar 20 persen, ditopang oleh ketahanan volume penjualan.

Ke depan, tekanan biaya pupuk diperkirakan masih berlanjut. Kenaikan harga pupuk hingga USD275 per ton atau melonjak 37 persen dibandingkan rata-rata 2025 dipicu gangguan pasokan gas akibat ketegangan di Timur Tengah.

Tender pengadaan pupuk untuk paruh kedua 2026 diperkirakan akan dilakukan pada level harga yang lebih tinggi ini.

Meski demikian, dampak kenaikan biaya pupuk dinilai sudah sebagian besar tercermin pada emiten seperti AALI dan LSIP, sementara DSNG berpotensi menghadapi risiko penurunan laba sekitar 3 persen dari proyeksi awal.

Untuk TAPG, dampaknya diperkirakan paling terbatas karena struktur biaya pupuk yang telah dikontrak sebelumnya.

Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini. Prospek perbaikan kinerja didukung oleh potensi pengetatan pasokan ekspor dari implementasi program biodiesel B50 di Indonesia dan B12 di Malaysia.

Pada kuartal II dan III 2026, laba sektor diproyeksikan pulih masing-masing 41 persen dan 29 persen secara kuartalan, didorong oleh kenaikan harga dan volume penjualan.

TAPG dan DSNG tetap menjadi pilihan utama, dengan preferensi pada TAPG berkat eksposur harga spot yang lebih tinggi, biaya pupuk yang lebih terkendali, serta imbal hasil dividen yang menarik di kisaran 10 persen hingga 12 persen.

Meski prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, mulai dari percepatan penurunan persediaan, ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, hingga potensi perubahan kebijakan pemerintah.

Pandangan CGSI

Pandangan serupa juga disampaikan analis CGS Internasional Sekuritas Indonesia (CGSI) Rut Yesika Simak dan Jacquelyn Yow mempertahankan pandangan positif terhadap sektor perkebunan sawit, seiring prospek harga crude palm oil (CPO) yang dinilai tetap solid pada 2026.

Dalam riset yang terbit 9 April 2026, CGSI mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor ini, dengan proyeksi harga CPO 2026 di level 4.500 ringgit Malaysia per ton.

Kebijakan mandatori biodiesel B50 disebut menjadi faktor kunci yang menopang harga minyak nabati, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil.

“Kami menilai kebijakan mandatori B50 akan menjadi penopang struktural bagi harga minyak nabati, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar fosil, sehingga memberi keuntungan bagi produsen kelapa sawit,” tulis analis CGSI.

Namun demikian, CGSI mengingatkan sejumlah tantangan yang perlu dicermati.

Di antaranya potensi kekurangan pasokan metanol untuk produksi biodiesel, kebutuhan penyesuaian industri suku cadang kendaraan terhadap penggunaan biodiesel, hingga kesiapan infrastruktur yang belum sepenuhnya matang.

Dari sisi emiten, CGSI tetap menjagokan DSNG dan TAPG sebagai pilihan utama.

DSNG dinilai menarik berkat prospek pertumbuhan dan implementasi ESG yang solid, sementara TAPG unggul dari sisi imbal hasil serta profil aset perkebunan yang kuat.

Ke depan, potensi kenaikan valuasi sektor dinilai dapat dipicu oleh fenomena El Nino yang berisiko menekan produksi, serta pasokan CPO global yang semakin ketat.

Meski begitu, investor tetap perlu mewaspadai sejumlah risiko penurunan, seperti potensi pengetatan regulasi di dalam negeri serta kenaikan biaya input yang dapat menekan margin perusahaan. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik