Likuiditas Perbankan Masih Kuat, Analis Cermati Dua Saham Ini

Likuiditas Perbankan Masih Kuat, Analis Cermati Dua Saham Ini

Ekonomi | idxchannel | Jum'at, 10 April 2026 - 07:10
share

IDXChannel – Likuiditas perbankan nasional dinilai masih terjaga di tengah tekanan makroekonomi global yang belum mereda.

Riset analis Sucor Sekuritas Edward Lowis yang terbit pada 9 April 2026 menilai sektor perbankan tetap solid, meski pertumbuhan kredit mulai melambat dan risiko geopolitik berpotensi menahan pemulihan.

Edward menyebut pertumbuhan kredit pada Februari 2026 masih cukup kuat di level 9,4 persen secara tahunan, meski turun dari 10 persen pada Januari 2026.

Ekspansi kredit terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 22,3 persen, sementara kredit modal kerja hanya tumbuh 3,9 persen dan kredit konsumsi 6,6 persen, mencerminkan permintaan di segmen mass market dan UMKM yang masih lemah.

Dari sisi likuiditas, kondisi perbankan dinilai tetap longgar. Loan to deposit ratio (LDR) turun menjadi 84 persen dari 85 persen pada akhir 2025, menandakan kapasitas pendanaan bank masih kuat.

Pertumbuhan dana murah atau CASA yang naik 14 persen juga melampaui deposito berjangka yang tumbuh 12,6 persen, seiring penurunan suku bunga deposito sejak awal tahun yang menekan biaya dana.

Namun, Edward mengingatkan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian harga bahan bakar minyak (BBM) dapat menunda pemulihan kredit yang sebelumnya diperkirakan terjadi pada paruh kedua 2026.

Perbankan cenderung lebih berhati-hati untuk menjaga kualitas aset di tengah tekanan daya beli dan risiko perlambatan ekonomi.

Ia mencatat rasio kredit bermasalah (NPL) memang masih relatif stabil, tetapi mulai terlihat tekanan awal terutama pada kredit modal kerja yang naik ke 2,5 persen dari 2,4 persen.

Perlambatan pertumbuhan kredit pada segmen ini juga cukup tajam, dari 7,5 persen menjadi 3,9 persen, sementara kredit investasi dan kredit pemilikan rumah (KPR) mengalami kenaikan NPL tipis dan kredit konsumsi masih stabil.

“Ketidakpastian yang berkepanjangan berpotensi menekan kemampuan bayar dan daya beli masyarakat, terutama di segmen konsumen, sehingga risiko penurunan kualitas aset perlu diwaspadai,” tulis Edward dalam risetnya.

Di sisi lain, kinerja laba bank besar masih menunjukkan daya tahan.

Laba kumulatif lima bank besar tumbuh 10,7 persen secara tahunan hingga Februari 2026, ditopang oleh penurunan biaya kredit dari basis tinggi (high base) pada 2024-2025 serta perbaikan biaya dana seiring likuiditas yang longgar.

Edward menyoroti pertumbuhan laba yang kuat pada PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang masing-masing mencatat kenaikan sekitar 17 persen.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) tumbuh lebih moderat, masing-masing sekitar 3 persen dan 4 persen, akibat pertumbuhan kredit yang lebih lambat dan biaya kredit yang lebih tinggi.

Secara valuasi, sektor perbankan dinilai sedang berada dalam kondisi menarik akibat tekanan sentimen global yang mendorong penurunan valuasi.

Saat ini, lima bank besar diperdagangkan di kisaran -2 standar deviasi dari rata-rata 20 tahun pada metrik PE dan PBV, membuka peluang kenaikan ketika kondisi makro mulai stabil.

Sucor Sekuritas tetap merekomendasikan bank berkapitalisasi besar sebagai pilihan utama, dengan BBCA dan BRIS menjadi pilihan utama (top picks).

BBCA dinilai unggul karena fokus pada segmen nasabah affluent (berpenghasilan tinggi) dan manajemen yang konservatif sehingga menghasilkan pertumbuhan laba yang stabil, sementara BRIS diuntungkan oleh pertumbuhan perbankan syariah dengan portofolio kredit yang defensif. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik