Bursa Asia Bergerak Beragam, Tenggat AS-Iran Bayangi Pasar

Bursa Asia Bergerak Beragam, Tenggat AS-Iran Bayangi Pasar

Ekonomi | idxchannel | Selasa, 7 April 2026 - 09:54
share

IDXChannel – Bursa saham Asia beragam pada Selasa (7/4/2026) seiring investor bersikap hati-hati di tengah memanasnya konflik Timur Tengah dan tenggat waktu kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang semakin dekat.

Sementara itu, harga minyak bertahan di kisaran USD110 per barel, mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sentimen pasar masih dibayangi konflik AS-Israel dengan Iran yang pecah sejak akhir Februari, yang memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuat pelaku pasar cenderung menahan posisi sambil menunggu perkembangan terbaru.

Harga minyak pun tetap menguat, dengan Brent naik 0,4 persen ke USD110,19 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,8 persen ke USD113,31 per barel.

Penguatan minyak terjadi seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan sikap investor yang memilih aset lindung nilai.

Di pasar saham, indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik sekitar 0,4 persen. Indeks Nikkei Jepang bergerak fluktuatif dan ditutup turun 0,2 persen.

Sementara Strait Times Singapura melemah 0,20 persen. Sebaliknya, Shanghai Composite menguat 0,49 persen, KOSPI Korea Selatan naik tipis 0,02 persen, dan ASX 200 Australia melonjak 1,40 persen. Bursa Hong Kong masih tutup karena libur Paskah.

Kontrak berjangka (futures) saham AS alias Wall Street turun 0,55 persen, sementara futures Eropa mengindikasikan pembukaan lebih tinggi setelah libur panjang.

Laba kuartalan yang diproyeksikan mencetak rekor dari Samsung Electronics sempat mengangkat sentimen, namun perhatian pasar tetap tertuju pada perkembangan konflik Iran.

Senior Market Analyst Capital.com Kyle Rodda mengatakan pasar saat ini kembali berada dalam hitung mundur kebijakan Presiden AS Donald Trump.

“Kita kembali berada dalam hitung mundur yang ditetapkan Trump dan sulit memprediksi apa yang akan terjadi dengan tingkat keyakinan tinggi,” ujarnya, seperti dikutip Reuters.

Ia menambahkan, sebagian trader mungkin berani mengambil posisi spekulatif, sementara investor lain memilih lindung nilai atau menunggu di luar pasar.

“Tidak banyak yang bisa dilakukan pelaku pasar selain menunggu dan melihat perkembangan,” katanya.

Di sisi lain, Iran menegaskan menginginkan akhir perang yang permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara, serta menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz.

Trump bahkan memperingatkan Iran bisa “dihabisi” jika tidak memenuhi tenggat waktu kesepakatan, termasuk ancaman menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut. (Aldo Fernando)

Topik Menarik