Ekonom Sebut Ada Ketimpangan dari Simpanan Orang Kaya, Kuasai 57,69 Persen Dana di Bank

Ekonom Sebut Ada Ketimpangan dari Simpanan Orang Kaya, Kuasai 57,69 Persen Dana di Bank

Terkini | idxchannel | Jum'at, 27 Maret 2026 - 10:24
share

IDXChannel – Jurang ketimpangan ekonomi di Indonesia dinilai semakin melebar jika dilihat dari struktur simpanan masyarakat di bank umum. 

Ekonom Bright Institute, Awalil Rizky menilai kelompok nasabah kaya dengan saldo di atas Rp5 miliar kini menguasai lebih dari separuh total simpanan pihak ketiga (DPK) nasional.

Hingga akhir Januari 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melaporkan total simpanan di bank umum mencapai Rp10.115,93 triliun. Dari jumlah tersebut, simpanan kategori nominal tertinggi (di atas Rp5 miliar) mencatatkan nilai fantastis sebesar Rp5.786,83 triliun.

"Kelompok nominal tertinggi, yaitu rekening yang berisi lebih dari Rp5 miliar mencapai Rp5.786,83 triliun. Porsinya merupakan 57,69 persen atau lebih dari separuh total Simpanan Pihak Ketiga," kata Awalil dalam analisisnya, Jumat (27/3/2026).

Ketimpangan ini terlihat sangat mencolok ketika membandingkan jumlah rekening. Nasabah di kategori atas (tier tujuh) hanya memiliki sekitar 153,24 ribu rekening atau hanya 0,02 persen dari total 671,40 juta rekening yang ada. Namun, rata-rata saldo per rekening di kelompok ini mencapai Rp37,76 miliar.

Sebaliknya, kelompok bawah dengan saldo di bawah Rp100 juta mendominasi jumlah rekening hingga 98,91 persen (664,08 juta rekening). Ironisnya, total nilai simpanan mereka hanya Rp1.116,31 triliun atau 11,13 persen dari total DPK, dengan rata-rata saldo hanya Rp1,68 juta per rekening.

Dalam rentang waktu enam tahun (Januari 2020 hingga Januari 2026), simpanan kelas atas tumbuh pesat hingga 91,93 persen. Sementara itu, kelas menengah hanya tumbuh 34,22 persen dan kelas bawah tumbuh paling lambat di angka 29,83 persen.

Awalil juga menyoroti penurunan kualitas simpanan di kelas bawah. Jika pada Januari 2020 rata-rata saldo per rekening kelas bawah adalah Rp2,89 juta, kini angka tersebut merosot menjadi Rp1,68 juta.

"Salah satu penyebab melonjaknya jumlah rekening kelompok terbawah mungkin karena harus membuat rekening baru, ketika menerima bantuan sosial atau ikut program tertentu. Rekening sebenarnya tidak berfungsi optimal sebagai sarana menabung," tutur dia.

Fenomena ini diharapkan menjadi alarm bagi pembuat kebijakan. Penguasaan aset keuangan yang terkonsentrasi pada segelintir pihak berisiko memperburuk ketimpangan sosial-ekonomi di masa depan.

“Fenomena simpanan Bank Umum ini perlu dipertimbangkan oleh otoritas ekonomi sebagai salah satu indikator ketimpangan ekonomi. Jika ditambahkan dengan kepemilikan atas surat berharga, ketimpangan kepemilikan aset keuangan dipastikan makin mencolok,” kata Awalil.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik