Bursa Asia Melemah di Tengah Sorotan Negosiasi Gencatan Senjata Timur Tengah
IDXChannel – Bursa saham Asia melemah pada Kamis (26/3/2026), sementara dolar AS tetap kokoh di tengah sikap hati-hati investor menghadapi perkembangan cepat di Timur Tengah.
Iran sebelumnya menyatakan akan mempertimbangkan proposal Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk.
Perang yang semakin meluas mengguncang pasar global, mendorong harga minyak melonjak, memicu kembali kekhawatiran inflasi, serta mengacaukan ekspektasi suku bunga global.
Indeks Nikkei Jepang melemah 0,42 persen dan Topix terkoreksi 0,31 persen.
Sementara Kospi Korea Selatan ambles 3,08 persen, Shanghai Composite berkurang 0,60 persen dan Hang Seng Hong Kong tergelincir 1,49 persen.
Indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,23 persen dan diperkirakan mencatat penurunan bulanan sebesar 8,7 persen, menjadi koreksi terbesar sejak Oktober 2022.
Dolar AS bertahan di dekat level tertinggi terbaru dan menuju kenaikan bulanan sekitar 2 persen, memperkuat posisinya sebagai aset safe haven pilihan pasar.
Komentar terbaru Iran menunjukkan adanya sinyal kesiapan Teheran untuk bernegosiasi mengakhiri perang jika tuntutannya dipenuhi.
AS diketahui mengirimkan proposal gencatan senjata berisi 15 poin yang sebelumnya sempat ditolak oleh pejabat Iran.
Kepala Riset Pepperstone Chris Weston mengatakan, meski arus berita menunjukkan nada yang lebih konstruktif, pasar masih belum yakin terhadap sinyal mana yang dapat dipercaya dan dijadikan acuan.
“Pergerakan harga menunjukkan pelaku pasar masih memperkirakan akan ada banyak dinamika ke depan, meskipun peluang tercapainya kesepakatan negosiasi mulai meningkat,” ujar Weston, seperti dikutip Reuters.
Perang yang telah berlangsung hampir satu bulan akibat serangan gabungan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari secara efektif menutup Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Gangguan tersebut mendorong harga minyak melampaui USD100 per barel. Kontrak berjangka Brent berada di level USD103,35 per barel, naik 1 persen secara harian dan diperkirakan melonjak 42 persen sepanjang bulan ini.
Manajer Portofolio Senior sekaligus Kepala Tim Multi Asset Allspring Global Investments Matthias Scheiber menilai kepentingan masing-masing pihak akan sulit dipertemukan.
“Jika melihat apa yang ingin dicapai AS, Israel, dan Teheran, akan sangat sulit menyatukan semua kepentingan tersebut,” kata Scheiber.
“Kami masih melihat adanya peluang harga energi tetap tinggi secara struktural untuk sementara waktu,” imbuh dia.
Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat kenaikan harga energi membuat pelaku pasar menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tahun ini, yang turut menopang penguatan dolar.
Spekulasi kenaikan suku bunga AS sempat menguat, namun kini mulai mereda.
Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde pada Rabu juga membuka peluang kenaikan suku bunga di kawasan euro jika perang di Timur Tengah mendorong inflasi bertahan tinggi.
“Jika guncangan ini menyebabkan inflasi melampaui target dalam skala besar namun tidak terlalu lama, maka penyesuaian kebijakan secara terukur dapat dilakukan,” ujar Lagarde di Frankfurt.
Di pasar komoditas, emas naik 0,66 persen ke USD4.537 per troy ons, namun secara bulanan masih tertekan dan diperkirakan turun 14 persen sepanjang bulan ini, menjadi penurunan terdalam sejak Oktober 2008. (Aldo Fernando)










