Bursa Asia Bangkit, Minyak Turun di Tengah Harapan Gencatan Senjata Timur Tengah

Bursa Asia Bangkit, Minyak Turun di Tengah Harapan Gencatan Senjata Timur Tengah

Ekonomi | idxchannel | Rabu, 25 Maret 2026 - 09:20
share

IDXChannel – Bursa saham Asia menguat seiring harga minyak melemah pada Rabu (25/3/2026) setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) tengah mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan dalam perang dengan Iran.

Washington juga disebut telah mengirimkan rencana 15 poin kepada Teheran untuk dibahas. Langkah ini memicu harapan bahwa ekspor minyak dari Teluk Persia dapat kembali berjalan.

Bursa saham Australia, Korea Selatan, dan Jepang masing-masing naik sekitar 2 persen pada perdagangan Rabu pagi. Kemudian, Shanghai dan Hang Seng Hong Kong naik sekitar 1 persen.

Sementara, emas menguat 1,6 persen setelah sebelumnya sempat ditekan aksi ambil untung pasca reli panjang.

Futures S&P 500 naik 0,9 persen pada perdagangan pagi Asia, sementara futures Eropa menguat 1,2 persen dan harga minyak Brent turun sekitar 6 persen menjadi USD98,30 per barel.

Global Market Strategist J.P. Morgan Asset Management Kerry Craig mengatakan pasar saat ini bergerak mengikuti perkembangan berita utama.

Menurutnya, sentimen pasar cenderung positif, tetapi masih terdapat ketidakpastian mengenai arah perkembangan gencatan senjata dan apakah benar-benar akan terealisasi.

Presiden AS Donald Trump pada Selasa menyatakan bahwa negaranya membuat kemajuan dalam negosiasi untuk mengakhiri perang, termasuk memperoleh konsesi penting dari Teheran.

Seorang sumber Reuters juga mengonfirmasi bahwa AS telah mengirimkan proposal penyelesaian berisi 15 poin kepada Iran, sementara Channel 12 Israel melaporkan bahwa AS mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan untuk membahas rencana tersebut.

Teheran sendiri membantah telah melakukan pembicaraan langsung.

Pasar merespons positif, meski tetap berhati-hati, terhadap sinyal sejak Senin bahwa AS berupaya mengakhiri konflik, karena belum jelas kapan Selat Hormuz dapat kembali dibuka untuk kapal tanker minyak.

Harga Brent masih naik 35 persen sejak perang dimulai dan bertahan di dekat level USD100 per barel, yang mulai menekan ekonomi negara-negara Asia karena tingginya harga bahan bakar jet dan diesel.

Di sisi lain, pasar suku bunga tetap memperkirakan respons agresif dari bank sentral, dengan serangkaian kenaikan suku bunga di Eropa, Inggris, Jepang, dan Australia dalam beberapa bulan ke depan untuk menekan inflasi, sementara tidak ada tambahan pemangkasan suku bunga di Negeri Paman Sam. (Aldo Fernando)

Topik Menarik