Produksi Tambang Bawah Tanah Grasberg Pulih dalam Dua Pekan usai Longsor

Produksi Tambang Bawah Tanah Grasberg Pulih dalam Dua Pekan usai Longsor

Terkini | idxchannel | Senin, 23 Maret 2026 - 08:54
share

IDXChannel – PT Freeport Indonesia (PTFI) optimistis operasional tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC) akan segera kembali normal. 

Produksi di area tersebut sempat terkendala akibat insiden longsor beberapa waktu lalu, namun proses pemulihan dijadwalkan rampung dalam waktu dekat.

Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas mengungkapkan bahwa fokus pemulihan saat ini diarahkan pada titik production block 2 dan 3. Sementara itu, untuk production block 1 baru diproyeksikan mulai beroperasi pada tahun depan.

"Mulai 2-3 minggu ke depan kira-kira akan mulai kita ramp up lagi produksi di Grasberg Block Cave ya. Itu di production block 2 dan production block 3. Yang production block 1 masih tahun depan (2027)," ujar Tony saat ditemui di kawasan Widya Candra, Jakarta, Sabtu (21/3/2026) malam.

Tahun ini, PTFI mematok target produksi yang ambisius, yakni sebesar 1,1 miliar pound tembaga dan 800.000 troy ounces (sekitar 24,88 ton) emas.

Meski demikian, Tony tidak menampik adanya kendala teknis serta pembengkakan biaya operasional yang harus dihadapi perusahaan dalam proses penambangan bawah tanah tersebut.

"Tahun ini tantangannya, tentu ada biaya-biaya akan lebih mahal, tapi dari tantangan produksinya ya kita lagi menyelesaikan, akan segera mulai menambang di production block 2 dan 3 di Grasberg Block Cave," tutur Tony.

Tony menambahkan bahwa fokus utama manajemen saat ini adalah menyelesaikan hambatan di lapangan agar aktivitas ramp up atau peningkatan volume produksi bisa segera terlaksana.

"Ya tantangan teknis, lebih banyak tantangan teknis. Tapi mudah-mudahan dalam waktu dekat 2-3 minggu ke depan kita sudah mulai bisa produksi di situ dan akan mulai ramp up," tambahnya.

Sebagai Sekretaris Jenderal Indonesia Mining Association (IMA), Tony menekankan bahwa kebijakan perusahaan adalah menitikberatkan pada aspek operasional yang dapat dikendalikan secara internal, daripada sekadar mengejar target laba yang sangat bergantung pada fluktuasi harga komoditas global.

"Pendapatannya kalau pendapatan itu kan tergantung dengan harganya. Tapi kan kita rencana produksinya, kami selalu merencanakan yang bisa kami kendalikan. Kalau harga kan bukan kita yang mengendalikan," katanya.

Oleh karena itu, pengendalian produksi dan efisiensi operasional menjadi prioritas utama PTFI guna menjaga keberlangsungan tambang emas dan tembaga terbesar di Indonesia tersebut.

"Jadi kita kendalikan yang kita bisa kendalikan adalah produksi dan lain sebagainya, operasional, itu yang kita punya target. Bukan target keuntungan," tutur dia.

(kunthi fahmar sandy)

Topik Menarik