Mentan Tekankan Pentingnya Hilirisasi Pertanian dan Hentikan Ekspor Bahan Mentah

Mentan Tekankan Pentingnya Hilirisasi Pertanian dan Hentikan Ekspor Bahan Mentah

Terkini | idxchannel | Sabtu, 21 Maret 2026 - 16:04
share

IDXChannel - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya mempercepat hilirisasi sektor pertanian sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Menurutnya, hilirisasi merupakan keniscayaan dan ekspor bahan mentah harus dihentikan.

“Hilirisasi adalah keniscayaan. Kita tidak boleh lagi mengekspor bahan mentah. Komoditas pertanian harus diolah di dalam negeri agar nilai tambahnya dinikmati oleh rakyat Indonesia, terutama petani,” kata Mentan dalam keterangan resminya pada Jumat (20/3/2026).

Ia menjelaskan, selama ini sebagian komoditas pertanian Indonesia masih dijual dalam bentuk bahan baku, sehingga margin keuntungan terbesar justru dinikmati oleh negara pengolah. Karena itu, hilirisasi yang terstruktur dan terintegrasi dari hulu hingga hilir menurutnya penting dilakukan.

“Hari ini kita ubah paradigma. Petani tidak boleh hanya menjual hasil panen, tetapi harus masuk dalam rantai industri. Kita bangun dari hulu sampai hilir agar nilai tambah meningkat dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” ujarnya.

Mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya industrialisasi berbasis sumber daya alam, Amran menilai sektor pertanian memiliki posisi strategis sebagai fondasi hilirisasi nasional. Ia menyoroti konsep pohon industri sebagai pendekatan dalam pengembangan komoditas pertanian.

“Setiap komoditas punya banyak turunan. Kelapa bisa menjadi puluhan produk, kakao menjadi berbagai olahan, singkong bisa diolah menjadi tepung hingga bioetanol. Inilah yang kita sebut pohon industri,” kata dia.

Amran juga menegaskan, hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi desa.

“Kalau industri pengolahan dibangun di sentra produksi, maka lapangan kerja tercipta di desa. Anak muda tidak hanya bertani, tetapi juga bisa masuk ke industri pengolahan, pemasaran, hingga ekspor. Ini masa depan pertanian kita,” katanya.

(Febrina Ratna Iskana)

Topik Menarik