Saham Konglomerat dan Bank Besar Jadi Pemberat IHSG Sepekan

Saham Konglomerat dan Bank Besar Jadi Pemberat IHSG Sepekan

Ekonomi | idxchannel | Minggu, 15 Maret 2026 - 13:44
share

IDXChannel - Koreksi tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang sepekan terakhir turut dipicu oleh tekanan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama dari kelompok konglomerasi dan perbankan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi pemberat terbesar indeks.

Saham emiten energi terbarukan milik Grup Barito tersebut turun 18,45 persen sepekan ke Rp6.300 per unit dengan nilai MCFF (market cap free float) Rp103,67 triliun, sehingga memberikan kontribusi penurunan hingga 52,74 poin terhadap IHSG.

Sebagai informasi, MCFF merupakan nilai kapitalisasi pasar yang hanya menghitung saham yang beredar bebas di publik (free float).

Sementara, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) ambles 11,9 persen sepekan dengan MCFF Rp34,93 triliun, sehingga berkontribusi menurunkan IHSG sebesar 10,61 poin.

Di posisi berikutnya, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) milik Grup Salim melemah 19,18 persen sepekan. Dengan nilai MCFF Rp66,77 triliun, koreksi saham ini menekan IHSG sebesar 35,65 poin.

Sementara itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan bagian dari Grup Sinarmas juga terkoreksi 11,24 persen dengan MCFF Rp105,30 triliun, sehingga memberi tekanan 29,99 poin pada indeks.

Tekanan terhadap IHSG juga datang dari sektor perbankan.

Saham bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) turun 4,36 persen pekan ini dengan MCFF Rp245,31 triliun dan berkontribusi menekan IHSG sebesar 25,15 poin.

Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) ikut melemah 4,62 persen dengan MCFF Rp163,97 triliun, sehingga memberi tekanan 17,86 poin.

Kemudian, saham bank Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,79 persen dengan MCFF Rp289,59 triliun, yang berdampak pada penurunan IHSG sebesar 11,84 poin.

Selain itu, saham raksasa telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga menjadi salah satu pemberat indeks setelah terkoreksi 6,9 persen. Dengan MCFF Rp138,90 triliun, penurunan saham ini mengurangi 23,14 poin dari pergerakan IHSG.

Sementara itu, saham pemain utama sektor otomotif hingga perkebunan PT Astra International Tbk (ASII) turun 4,9 persen dengan MCFF Rp106,05 triliun, menekan indeks sebesar 12,29 poin.

Dari kelompok konglomerasi lain, saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) dari Grup Bakrie menjadi salah satu yang terkoreksi paling dalam, yakni 22,74 persen. Dengan MCFF Rp15,77 triliun, saham ini memberikan tekanan 10,44 poin terhadap indeks.

Penurunan tajam saham-saham berkapitalisasi besar tersebut terjadi di tengah tekanan pasar yang meningkat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat merosot signifikan pada perdagangan Jumat (13/3) seiring memburuknya sentimen global dan lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Berdasarkan data bursa, IHSG turun 3,05 persen ke level 7.137,21 pada Jumat dengan nilai transaksi Rp13,64 triliun dan volume perdagangan 26,88 miliar saham. Sebanyak 656 saham tercatat turun, 113 saham naik, dan 189 saham stagnan.

Investor asing juga membukukan jual bersih (net sell) Rp221,84 miliar di pasar reguler pada Jumat. Dalam sepekan, investor asing mencatatkan net sell hingga Rp1,23 triliun.

Secara mingguan, kinerja IHSG melemah 5,91 persen, menandai penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Bahkan dalam sebulan terakhir, indeks telah terdepresiasi hingga 13,09 persen.

Analis BRI Danareksa Sekuritas menilai penurunan tajam IHSG terjadi seiring meningkatnya sentimen risk-off global.

Tekanan tersebut juga tercermin dari pelemahan mayoritas bursa saham Asia yang mengikuti koreksi di Wall Street.

Dari sisi domestik, kenaikan harga minyak dunia dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal pemerintah apabila harganya melampaui asumsi dalam APBN. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik