Minyak Dunia Kembali Melonjak, Saham Batu Bara dan CPO Berpotensi Cuan

Minyak Dunia Kembali Melonjak, Saham Batu Bara dan CPO Berpotensi Cuan

Ekonomi | idxchannel | Kamis, 12 Maret 2026 - 20:40
share

IDXChannel - Lonjakan harga minyak dunia kembali menjadi perhatian pasar setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. 

Harga minyak Brent untuk kontrak Mei 2026 tercatat melonjak sekitar 6,7 persen ke level USD98,1 per barel pada Kamis (12/3/2026) sore.

Kenaikan tersebut dipicu oleh dua perkembangan utama di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Di mana International Energy Agency (IEA) sepakat melepas cadangan minyak strategis sebesar 400 juta barel pada Rabu (11/3/2026). Jumlah tersebut menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah organisasi tersebut dan ditujukan untuk meredam lonjakan harga minyak global.

Namun, sentimen pasar masih dibayangi risiko gangguan pasokan setelah insiden keamanan di jalur perdagangan energi utama dunia.

Pada hari yang sama, tiga kapal dilaporkan terkena proyektil di wilayah Selat Hormuz dan Teluk Persia. Insiden ini terjadi setelah Garda Revolusi Iran menyatakan menembaki kapal-kapal yang dianggap tidak mematuhi perintah mereka.

Juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari menegaskan, negaranya tidak akan mengizinkan pengiriman minyak menuju Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Dia bahkan memperingatkan harga minyak berpotensi melonjak hingga USD200 per barel.

Menurut Stockbit, Kamis (12/3/2026) kenaikan harga minyak menunjukkan bahwa pasar masih mencemaskan prospek pasokan energi global. 

Penutupan Selat Hormuz berpotensi mengganggu aliran sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Meski pelepasan cadangan oleh IEA menjadi yang terbesar dalam sejarah, volumenya masih relatif kecil dibandingkan potensi gangguan pasokan tersebut. 

Analisis dari Macquarie Group memperkirakan total pelepasan cadangan minyak IEA itu hanya setara sekitar 16 hari volume minyak yang melewati Selat Hormuz.

Selain itu, pasar juga masih menunggu kejelasan mengenai jadwal dan laju pelepasan harian cadangan minyak tersebut.

Secara keseluruhan, negara-negara anggota IEA memiliki cadangan minyak sekitar 1,2 miliar barel, di luar persediaan komersial wajib sebesar 600 juta barel.

Stockbit menilai, terdapat dua faktor yang berpotensi menormalkan harga minyak. Pertama, intervensi pasokan melalui pelepasan cadangan minyak strategis. Kedua, demand destruction atau penurunan permintaan akibat kebijakan suku bunga yang lebih ketat.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Semakin lama harga minyak bertahan di level tinggi, pemerintah berisiko menghadapi pilihan sulit antara menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) atau melakukan penyesuaian belanja negara.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak secara historis sering diikuti oleh kenaikan harga komoditas energi dan perkebunan lain seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO), yang merupakan dua komoditas ekspor utama Indonesia.

Dalam skenario harga minyak tinggi berkepanjangan, saham sektor komoditas dinilai dapat menjadi pilihan investor, di antaranya PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) di sektor batu bara, serta PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) di sektor CPO.

(DESI ANGRIANI)

Topik Menarik