Dongkrak Indeks Kehati, SIG (SMGR) Sisihkan 11,3 Persen Lahan Tambang untuk Kawasan Konservasi
IDXChannel - PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), atau SIG, terus berupaya memaksimalkan kontribusinya terhadap lingkungan, sosial dan tata kelola (environment, social and governance/ESG) melalui beragam pendekatan.
Salah satunya dengan konsisten mendorong peningkatan indeks keanekaragaman hayati (kehati) di berbagai kawasan konservasi yang digagas di sejumlah lahan operasional Perseroan.
Terbaru, SIG melalui salah satu anak usahanya, yaitu PT Semen Tonas, juga telah mengubah peruntukan lahan seluas 31,64 hektare, atau 11,3 persen dari total lahan tambang seluas 280 hektare milik Semen Tonasa, untuk ditetapkan sebagai kawasan konservasi, yang diberi nama Taman Keanekaragaman Hayati (Kehati) dan Geopark Bulu Sipong.
"Sudah kami resmikan (sebagai kawasan konservasi) sejak 2018 lalu, untuk melindungi keanekaragaman hayati di sekitar area tambang serta kawasan Geopark dan Purbakala," ujar Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, dalam keterangan resminya, Rabu (4/3/2026).
Bahkan, menurut Vita, salah satu bagian dari Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong, yaitu Bulu Sipong 4, saat ini telah menjadi bagian dari salah satu geosite di Geopark Maros Pangkep, dan sekaligus telah resmi masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark, berdasarkan keputusan Sidang Dewan Eksekutif UNESCO ke-216 di Paris, pada 2023 lalu.
Vita menjelaskan, Leang (Gua) Bulu Sipong 4 di Bukit Bulu Sipong kini telah menjadi saksi peradaban, di mana terdapat seni cadas tertua di dunia berusia sekitar 44.000 tahun bergambar adegan perburuan binatang oleh manusia pada era prasejarah.
"(Langkah) Ini merupakan bukti komitmen kami, baik SIG maupun Semen Tonasa, dalam melindungi kelestarian warisan budaya dunia dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan," ujar Vita.
Cagar budaya Bulu Sipong 4 sendiri berada di lahan tambang tanah liat PT Semen Tonasa, tepatnya di Kelurahan Bontoa, Kecamatan Minasatene, Pangkep, Sulawesi Selatan.
Dikutip dari buku Cultural Heritage Management Plan oleh PT Semen Tonasa, Bulu Sipong 4 merupakan salah satu gua prasejarah di Bukit Bulu Sipong yang pertama kali ditemukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Makassar pada 2016.
Penemuan ini lalu dilanjutkan dengan penelitian berupa pengambilan sampel pertanggalan pada gambar cadas dan kemudian ditindaklanjuti dengan perjanjian kerja sama antara PT Semen Tonasa dan Dirjen Kebudayaan dalam rangka perlindungan gua prasejarah tersebut.
"Kami berharap keberadaan Bulu Sipong bisa menjadi sarana edukasi dan membantu mempromosikan sejarah dan budaya peradaban kepada masyarakat luas," ujar Vita.
Tak hanya itu, lanjut Vita, pihaknya juga telah berkolaborasi dengan LPPM Universitas Hasanuddin dalam merilis Cultural Heritage Management Plan atas situs prasejarah Bulu Sipong 4.
Dokumen tersebut berfungsi sebagai panduan pengelolaan warisan budaya yang dimiliki Perusahaan, termasuk Bulu Sipong, yang merupakan situs cagar budaya, sehingga dapat dikelola dengan baik secara berkelanjutan untuk mempertahankan nilai-nilai budaya yang ada.
Selain itu, dalam pengelolaan Bulu Sipong, PT Semen Tonasa juga bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIX, antara lain untuk pemantauan getaran dan udara ambien secara berkala, pengecoran jalan sepanjang 1.800 meter dan penyiraman jalan tambang secara berkala untuk mengurangi debu.
Perusahaan juga mengedukasi karyawan dan masyarakat sekitar tentang pentingnya pelestarian situs prasejarah, memasang rambu dan pembatasan akses dengan pemasangan pagar sepanjang 1.900 meter, serta revegetasi di kawasan konservasi.
Selain seni cadas purbakala, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat bagi beragam jenis flora dan fauna dengan Indeks Kehati yang terus meningkat.
Hingga 2025, terdapat 25 jenis flora dengan total jumlah tanaman sebanyak 2.898 pohon, di antaranya eboni (diospyros celebica), kayu kuku (pericopsis mooniana), dan bitti (vitex cofassus) yang merupakan tanaman endemik lokal.
Selain flora, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong juga menjadi habitat alami bagi 41 jenis satwa liar yang terdiri dari 37 jenis burung, 2 jenis primata, serta 1 unggas dan 1 reptil. Total jumlah satwa yang berhasil terpantau hingga 2025 sebanyak 869 ekor, termasuk monyet dare (macaca maura) dan tarsius yang merupakan primata endemik lokal yang dilindungi.
Pada 2025, Taman Kehati dan Geopark Bulu Sipong mencatatkan nilai Indeks Kehati Flora sebesar 1,54, atau naik dari periode 2020 sebesar 1,38. Indeks Kehati Fauna juga tercatat naik menjadi 2,85 dari sebelumnya 2,51 pada 2020.
"Kenaikan nilai Indeks ini bagi kami menunjukkan lingkungan kawasan Bulu Sipong yang semakin asri dan menjadi benteng pelindung bagi kelestarian keanekaragaman hayati dan warisan arkeologi di dalamnya," ujar Vita.
Atas inisiatif strategis ini, SIG dan PT Semen Tonasa mendapat apresiasi dan kehormatan sebagai narasumber pada forum internasional SPAFA International Conference on Southeast Asian Archaeology and Fine Arts (SPAFACON) 2024 dan Indonesia Geopark Leader Forum 2025 untuk memaparkan program perlindungan situs Bulu Sipong serta program perlindungan Kehati.
(taufan sukma)









