Bahlil: Saya Pastikan Harga BBM Subsidi Tidak Naik hingga Hari Raya Idulfitri 2026
IDXChannel - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) pertalite tetap terjaga di harga Rp10 ribu per liter, setidaknya hingga hari raya Lebaran atau Idulfitri 2026. Meskipun saat ini terjadi konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia.
Bahlil menjelaskan, hanya minyak dunia dalam asumsi APBN sebesar USD70 dolar per barel. Sementara harga minyak dunia sendiri saat ini harganya sudah melonjak ke level USD80-81 per barel atau melampaui target.
Namun, selisih harga tersebut akan ditanggung oleh APBN agar harga jual di pasar untuk produk BBM subsidi tidak mengalami perubahan.
"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan apa-apa. Kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN), dan kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang lebaran," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Namun, Bahlil mengatakan, untuk BBM jenis nonsubsidi diperkirakan akan tetap mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Naik atau turunnya harga minyak mentah dunia akan membentuk harga BBM nonsubsidi di pasar.
"Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran, tetapi kalau untuk harga BBM yang non subsidi itu memang mekanisme pasar," kata dia.
Bahlil memastikan ketersediaan stok BBM maupun LPG yang cenderung mengalami peningkatan saat periode Lebaran akan terpenuhi optimal. Bahkan, ketersediaan stok energi di dalam negeri diperkirakan mampu sampai 21 hari ke depan.
Dia mengakui, dampak konflik yang terjadi antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran menyeret pada harga dan pasokan yang terhambat.
"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita, ini tidak lebih dari 21 hari sampai 25 hari. Itu kemampuan kita," ujar Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil mengaku tengah melakukan penghitungan ulang alokasi anggaran subsidi energi di tengah konflik yang terjadi. Mengingat dampak penutupan selat Hormuz juga menyebabkan Pemerintah mengalihkan impor yang sebelumnya dari Timur Tengah ke Amerika Serikat (AS). Sehingga, impor tersebut tidak melalui jalur pengiriman Selat Hormuz.
Bahlil menyampaikan, akan melakukan pengalihan impor untuk minyak mentah dan LPG dari Timur Tengah karena penutupan Selat Hormuz. Sekitar 25 persen total impor Indonesia akan dialihkan dari Timur Tengah ke AS.
"Setelah tadi kita detailing, total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Skenario nya adalah, sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika," kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Sementara untuk LPG, Bahlil menjelaskan 30 persen impor LPG Indonesia masih didatangkan dari Timur Tengah. Porsi tersebut akan didatangkan dari negara selain Timur Tengah untuk memenuhi pasokan LPG nasional.
"LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun, dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persen nya sekarang kita ambil dari Amerika. Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil risiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan selat Hormuz," ujarnya.
(Dhera Arizona)









